Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

14 June 2016

Scientific EEG Hypnotherapy

By Beraya Media | At 16:23 | Label : | 0 Comments
Scientific EEG Hypnotherapy Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Scientific EEG Hypnotherapy
SEO BLADE® - Saat menulis artikel ini saya sedang seorang diri, di kamar hotel di kota Camarillo, California, mencatat dan merenungkan apa yang saya pelajari dari salah satu pakar hipnoterapi terkemuka Amerika. Pelatihan ini berlangsung dua hari dan merupakan workshop private, one-on-one, di mana saya belajar langsung dengan pakar EEG Hypnotherapy terbaik dunia, Tom Silver.

Minggu lalu, selama sembilan hari non stop saya belajar langsung, juga secara private one-on-one, dengan satu-satunya pakar Mind Mirror, Anna Wise, di Berkeley. Sebagian “oleh-oleh” hasil belajar dengan Anna Wise sudah saya tulis di artikel sebelumnya “Bertanya Kepada Keheningan”. Kali ini saya akan menceritakan apa itu Scientific EEG Hypnotherapy. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa hipnosis/hipnoterapi di tanah air saat ini berkembang cukup pesat. Ada banyak rekan atau lembaga yang mengajar hipnosis/hipnoterapi. Ini adalah kemajuan yang luar biasa. Mulai dari pelatihan 1 hari hingga yang 9 hari. Mulai dari pelatihan yang hanya 8 jam hingga 100 jam. Demikian pulasaya mengajar hipnoterapi 100 jam melalui lembaga Quantum Hypnosis Indonesia (QHI).

Saya sangat beruntung karena mendapat kesempatan langka belajar langsung pada Tom Silver pada level Advanced Master Class yang ia selenggarakan. Dan yang lebih luar biasa lagi teknologi EEG yang saya pelajari dari Tom adalah teknologi terbaru yang sangat advanced. Dan yang lebih.. lebih… lebih.. luar biasa lagi adalah saya adalah orang pertama yang mendapat kesempatan belajar teknologi ini dari Tom Silver. He..he.. ini bukannya mau pamer atau narsis lho. Sungguh saya bersyukur kepada Tuhan atau kesempatan langka dan luar biasa ini. Selama ini Tom Silver hanya mendemokan alat ini di kelas pelatihan hipnoterapinya. Semacam tambahan pengetahuan bagi murid-muridnya namun tidak disertifikasi secara khusus sebagai EEG Hypnotherapist seperti yang ia lakukan pada saya.

Kelas Advanced Master Class adalah kelas yang khusus diperuntukkan bagi mereka yang telah telah terbukti punya jam terbang cukup sebagai hipnoterapis aktif dan merupakan hipnoterapis lulusan lembaga terkemuka. Di akhir hari kedua, usai pelatihan, saya mendapat, dan ini benar-benar kejutan bagi saya, dua sertifikasi sekaligus. Pertama, sertifikasi dibidang EEG Scientific & Clinical Hypnotherapy. Dan yang kedua, dan ini benar-benar tidak saya sangka, Tom Silver memberikan sertifikat keanggotaan sebagai Anggota Kehormatan yang pertama dari lembaga Brain Wave Foundation yang baru ia dirikan. Wow.. saya sungguh terharu atas penghargaan dan kepercayaan yang ia berikan kepada saya.

Kembali ke topik semula. Saya dan rekan-rekan trainer dan atau pemerhati hipnosis/hipnoterapi walaupun telah melakukan edukasi publik mengenai apa itu hipnosis /hipnoterapi, baik dengan mengajar atau membuka kelas pelatihan, menulis buku, talkshow di radio atau televisi, atau diskusi, namun mayoritas masyarakat tetap masih mempunyai pemahaman yang kurang tepat, jika tidak mau dikatakan keliru atau salah, tentang hipnosis/hipnoterapi. Banyak yang masih berpikir bahwa hipnosis/hipnoterapi adalah sesuatu yang berhubungan dengan kekuatan supranatural atau magis.

Sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap perkembangan dan kemajuan hipnosis /hipnoterapi di tanah air maka QHI, selain menyelenggarakan pelatihan 100 jam sertifikasi hipnoterapis, juga terus memperkaya wawasan, melakukan update pengetahuan dan materi dengan menimba ilmu baru dan belajar kepada para pakar terbaik di Amerika.

Lalu, apa beda antara hipnosis/hipnoterapi konvensional dan Scientific EEG Hypnotherapy? Oh, sangat jauh bedanya. Jika orang tidak mengenal Tom Silver sebagai pakar hipnoterapi maka dari apa yang Tom sampaikan orang akan mengira sedang berbicara dengan seorang ahli saraf, atau dokter, atau ilmuwan/peneliti. Tom Silver memang bukan dokter namun ia adalah seorang peneliti yang telah menggeluti riset EEG Hypnotherapy selama lebih dari 15 tahun.

Selama ini kami, trainer hipnosis/hipnoterapi, jika berbicara tentang trance maka teknik yang digunakan untuk mengukur kedalaman trance biasanya adalah berbagai teknik pengujian, biasa disebut dengan covert test, dan atau membaca ciri-ciri tubuh subjek atau klien. Dengan Scientific EEG Hypnotherapy maka kedalaman trance bisa langsung dilihat pada layar komputer melalui pola gelombang otak yang terdiri dari gelombang beta, alfa, theta, dan delta. Dengan demikian kita bisa mendapatkan bukti empirik. Tidak hanya mereka-reka atau kira-kira.

Definisi konvensional, dan ini saya kutip dari US. Dept. of Education, Human Services Division, “Hypnosis is the bypass of the critical factor of the conscious mind and followed by the establishment of acceptable selective thinking” (hipnosis adalah penembusan faktor kritis dari pikiran sadar dan diikuti dengan diterimanya suatu sugesti atau pemikiran tertentu).

Definisi hipnosis menurut Scientific EEG Hypnotherapy, “All hypnosis is based on magnified brainwaves frequency and amplitude changes from beta state to delta state resulting in enhancing and increasing focus, concentration, and receptivity towards any mental message given to subconscious” (semua hipnosis sebenarnya adalah berdasarkan pada perubahan frekuensi dan amplitudo gelombang otak dari kondisi beta ke kondisi delta yang mengakibatkan meningkatnya fokus, konsentrasi, dan penerimaan terhadap pesan-pesan mental yang diberikan kepada pikiran bawah sadar).

Ternyata yang disebut dengan trance, secara neurological, adalah menurunnya aktifitas dan amplitudo gelombang beta (pikiran sadar) dan meningkatnya aktifitas dan amplitudo gelombang alfa, theta ,dan delta. Semakin dalam trance yang dialami seseorang maka semakin rendah gelombang otak yang aktif pada suatu saat.

Saat pikiran sadar kita aktif maka saat itu gelombang otak dominan adalah beta yang berkisar antara 14 – 30 Hz. Saat kita rileks atau light hypnosis maka yang aktif dominan adalah alfa pada kisaran frekuensi 7 sampai 13 Hz. Saat kita turun lebih dalam lagi, masuk ke pikiran bawah sadar maka gelombang otak dominan adalah theta pada kisaran 4 – 7 Hz. Dan pada level deep trance atau somnambulisme gelombang otak yang aktif adalah delta yang berkisar antara 0,1 – 4 Hz.

Wow… ini benar-benar informasi yang luar biasa. Yang lebih dahsyat lagi adalah kita, dengan bantuan EEG yang dirancang khusus untuk tujuan ini, dapat melihat secara real time gelombang otak subjek/klien pada suatu saat dan menstimulasi gelombang otak tertentu sehingga terapi menjadi semakin efektif dan permanen.

Tadi saya melakukan terapi kepada salah satu klien di rumah Tom, seorang wanita, dan saat saya melakukan induksi saya bisa melihat langsung bagaimana gelombang otaknya bergerak dari yang dominan beta langsung turun dan menjadi sangat tenang, hening, dan reseptif. Ia langsung masuk ke kondisi gelombang otak delta yang sangat dalam dan ini yang dikenal dengan level profound somnambulisme. Benar-benar luar biasa dan asyik.

Saat memberikan sugesti saya bisa melihat apakah ada resistensi dari pikiran sadarnya. Hal ini tampak dalam bentuk aktifitas pada gelombang beta dan seberapa besar amplitudonya. Ternyata sama sekali tidak ada penolakan.

Oh ya, tahukah anda bahwa untuk masuk kondisi alfa sebenarnya sangat mudah? Hanya dengan menutup mata dan merilekskan anggota tubuh tertentu maka saat itu juga otak akan menghasilkan gelombang alfa dalam jumlah besar dan dengan amplitudo yang tinggi, biasanya pada kisaran frekuensi 10,5 Hz.

Mengapa semakin rendah gelombang otak seseorang maka semakin efektif terapi yang dilakukan? Karena semakin rendah gelombang otaknya maka semakin reseptif pikiran bawah sadarnya. Dengan kata lain semakin rendah gelombang otak seseorang maka semakin dalam trance yang ia alami dan semakin reseptif pikiran bawah sadarnya terhadap pesan-pesan mental atau yang biasa kita sebut sugesti. Jadi, sebenarnya nggak benar kalau seseorang dikatakan masuk semakin dalam ke kondisi trance. Yang benar adalah pikirannya menjadi semakin fokus dan reseptif menerima pesan mental atau sugesti. Semakin rendah gelombang otak yang aktif maka semakin rendah resistensi terhadap perubahan.

Dari riset diketahui bahwa setiap gelombang otak ternyata mempengaruhi otak memproduksi dan melepaskan neurotransmitter tertentu seperti serotonin, melatonin, dopamine, endhorpine dan masih banyak lagi yang lain.

Satu penemuan menarik yang membuat saya berkata, “Wow… ini sungguh dahsyat”, yaitu kita, terapis, dengan mengetahui kondisi gelombang otak subjek/klien dapat menghapus emosi negatif semudah kita men-delete file atau program di komputer kita, tanpa perlu tahu sumber emosinya dan klien sama sekali tidak merasakan emosi ini. Luar biasa, kan?

Tom Silver mendemonstrasikan teknik ini secara live dan mengajari saya, langkah demi langkah, melakukannya dengan benar sehingga saya juga bisa dengan sempurna melakukan teknik ini. Sebelum melakukan teknik ini saya belajar dasar teorinya terlebih dahulu dengan melihat secara langsung pola gelombang otak klien.

Dan tadi saat saya mempraktikkan teknik ini untuk mengatasi perasaan tidak percaya diri dan perasaan tidak mampu pada klien di rumah Tom, hanya dibutuhkan waktu sekitar maksimal 10 menit saja. Sungguh satu teknik yang sangat luar biasa dan, sekali lagi, membuat saya berkata, “Wow… ini sungguh dahsyat”.

Perasaan “Wow… ini sungguh dahsyat” pernah muncul saat dulu saya pertama kali belajar hipnoterapi dan bertemu dengan teknik-teknik terapi yang berkerja dengan dahsyat, cepat, efektif, dan memberikan hasil yang permanen. Dan setelah itu walaupun saya membaca ratusan buku tentang pikiran dan hipnoterapi, nonton ratusan DVD/Video tentang hipnoterapi, saya tidak pernah lagi merasakan perasaan ini. Tapi hari ini saya menemukan kembali perasaan ini. Saya seperti seorang anak kecil yang melompat kegirangan karena mendapat mainan baru yang sangat didambakan.

Pembaca, saya tahu investasi waktu, pikiran, tenaga, dan biaya belajar ke Amerika benar-benar akan membuat saya memahami apa itu hipnosis dan hipnoterapi hingga pada level neurological. Saya melakukan ini karena kecintaan saya pada dunia hipnosis/hipnoterapi dan untuk bersama-sama rekan-rekan trainer lainnya memajukan hipnoterapi di Indonesia demi kebaikan orang banyak.

Sudah waktunya kita membawa hipnosis/hipnoterapi ke level yang lebih tinggi, level saintifik dan akademik. Bukan sekedar hipnosis yang dulu diajarkan saat jaman Mesmer. Juga bukan hipnosis/ hipnoterapi yang terkesan klenik karena dianggap berasal dari jaman antah berantah. QHI bersama para alumnusnya merasa bahagia dapat memulai langkah besar ini di Indonesia. Dengan dukungan dari rekan-rekan hipnoterapis lainnya maka kita semua akan dapat membuat lompatan Quantum yang luar biasa.

Oh ya, anda bisa melihat foto-foto saya saat belajar sama Tom di www.Quantum-Hypnosis.com, di Gallery Photo dalam album Scientific EEG Hypnotherapy atau di www.tomsilver.com .

* Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pakar pendidikan dan mind technology dan neuro-feedback, pembicara publik, dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis dua belas best seller “Born to be a Genius”, “Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success”, “Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?”, “Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication”, “Becoming a Money Magnet”, “Kesalahan Fatal dalam Mengejar Impian”, dan “Hypnotherapy: The Art of Subconscious Restructuring”, “Cara Genius Menguasai Tabel Perkalian”, “Kesalahan Fatal Dalam Mengejar Impian 2, dan “Five Principles to Turn Your Dreams Into Reality”, dan The Secret of Mindset . Adi dapat dihubungi melalui email adi@adiwgunawan.com, www.adiwgunawan.com, dan www.QLTI.com



Jejak Terakhir

By Beraya Media | At 12:37 | Label : | 0 Comments
Jejak Terakhir Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Jejak Terakhir
SEO BLADE® - Desember 1979, aku lupa tanggal dan hari tersebut. Yang kutahu hari itu menjadi hari yang cukup tenang untuk menikmati rumah baru keluargaku sebelum sisa-sisa kolonial Belanda menghabiskan segalanya yang ku punya, menyapu bersih kehidupan di desa sukaharjo, di desa kecil di jawa tangah.

“Kak, ada apa ini?” tanya ku kepada kakak tunggal ku, Hamid.
“Ssssttt!” jawabnya, dengan sebuah isyarat untuk diam.
“Hamid, Hamzah! cepat pergi dari rumah ini, lewat pintu belakang! Dan tak usah kembali!” perintah Ibu dengan wajah cemas dan kebingungan.
“Tapi bu?” tanya ku dengan bimbang.
Belum sempat menjawab pertanyaan ku, Kak Hamid menarik tangan ku yang kala itu tak mau meninggalkan kedua orangtuaku.
“Sebentar kak! Aku pikir kita perlu ini.” sepasang senjata tradisional, ku ambil dari dapur rumah.
Akhirnya kami berdua pergi meninggalkan rumah. Tak disangka beberapa prajurit Belanda Kolonial mengejar kami berdua, dengan spontan langkah seribu kami kerahkan untuk menghindari sergapan prajurit Belanda Kolonial. Sudah lumayan lama kami berdua berlari, tiba-tiba kaki kak Hamid berhenti di sela-sela pepohonan.
“Zah,kita harus berpencar disini untuk memperkecil pandangan Belanda kolonial, aku ke timur kau ke barat” ujar kak Hamid.
“Tidak kak! Kita saudara, satu darah! Kita harus bersama! Harus menjaga satu sama lain! Aku tak mau” Jawabku.
“Zah! Kau ini adikku! Kau harus percaya dan turuti aku!” ujar kak Hamid sambil memegang bahuku.
“Tidak! Pasti ada cara lain untuk menghindari orang itu!” jawabku dengan suara lantang.
“Dan inilah caranya! Aku ambil Keris ini dan kau bawa Panah nya, cepat! Cepat! Lari!”

Dan akhirnya aku berlari menuju ke timur, dengan kaki yang lemah ini dengan perasaan yang berat ini, aku meninggalkannya dengan air mata meninggalkan semuanya yang ku ketahui.

Aku terus berlari dan menuliskan tinta-tinta sejarah untuk mengingat segala hal, termasuk senjata Panah yang terpaksa aku jual demi kehidupanku.

Setelah itu, setelah pelarian itu aku hidup di daerah pendidikan, bukan sebagai pelajar tetapi sebagai pengemis receh dari para manusia berjas. Tetapi aku tak tinggal diam, tak ku sia-sia kan uang yang aku kumpulkan, aku mengumpulkan semuanya dalam waktu yang tak lama untuk bisa memasuki tempat Pendidikan bekas zaman penjajahan. Aku lewati berbagai rintangan, semua ranjau telah ku lewati dan karena itulah terkadang aku di panggil jenius, tetapi tak se jenius dalam mengatasi kekurangan uang. Akhirnya aku keluar dari tempat Pendidikan itu dengan rasa kecewa dan pasrah, seakan aku marah kepada diriku sendiri. Setelah itu, berbulan-bulan kulewati dengan mengemis kembali, hanya bisa menyuguhkan telapak tangan untuk meminta.

“Zah, kamu dapet panggilan sama pemilik sekolah!” salah seorang mantan teman se pelajar ku memberi tahu kepada ku.
“Ada apa ya?”
“Mana ku tahu? Sudah cepat! Semoga hal baik yang kau dengar!”
“Benar juga ya?” pikirku.
Hal itu tak membuat banyak pertanyaan bagiku, yang ku pikir pada saat itu hanyalah hal-hal baik. Langsung tak memakai lama aku pun menuju tempat pendidikan tersebut.

“Kenapa, Pakde?” tanya ku kepada pemilik tempat pendidikan tersebut.
“Ini lho, ada yang mencari mu!” jelas nya.
“Hamzah, siapkan koper! Kita akan ke Amerika? Apakah Kamu suka nasi? Jika begitu jangan harap di sana ada nasi, yang ada kita hanya bermain di dunia politik, hmmm, tidak tidak tidak bukan kita, tapi kamu Hamzah! Apakah kamu siap?” tiba-tiba seorang misterius berkata kepada ku.
“La, Bapak siapa ya?” Tanya ku.
“Aku ini duta besar Indonesia di Amerika, kebetulan aku lagi ada urusan di negeri ini”
Aku pun hanya memanggut seraya meneteskan air mata bahagia menandakan iya.

Mulai dari sinilah aku ciptakan jejak baru ku, sejarah baru ku, dan bahasa baru ku. Namun, disisi lain aku menyesal untuk hijrah ke Amerika, hal ini membuat aku semakin jauh dari keberadaan Kak Hamid yang sebenarnya tak ku ketahui keberadaan nya, tetapi dugaan ku selama ini dia hanya berada di Indonesia, tidak kemana-mana dan aku berjanji akan mencarinya.

20 Agustus 1998, aku menyelesiakan pendidikan ku di salah satu universitas politik di Washington dan aku langsung terjun ke dunia politik dan bekerja di Kedubes Indonesia di Amerika. Selama aku bekerja di Kedubes RI tak ada yang istimewa bagi ku, hari-hari selalau berlangsung sangat membosankan, tetapi inilah jalanku inilah jalan yang ku pilih, dan tak ada sedikit keraguan di dalamnya, aku yakin pekerjaan ini pasti suatu saat akan mendapat tantangan yang sangat berat.

Tahun terus berganti tahun, benar saja tebakan ku. 16 tahun kemudian Korea Utara mengancam untuk meledakkan perang dunia ke III setelah mengumumkan akan mengawalinya dengan melancarkan serangan nuklir ke negara Paman Sam atas dasar kebohongan Amerika dalam kerjasama yang telah lama mereka jalin, tetapi menurutku itu bukanlah sebuah kebohongan melainkan perbedaan ketika berpendat dan kesalahpahaman anatara kedua pihak. Hal tersebut tentu saja membuat seluruh negara geger di buatnya, termasuk Indonesia sebagai Pendiri Gerakan Non Blok. Dengan begitu pemerintah pusat RI mengirimkan surat perintah agar disegerakannya pembentukan tim komisi peleraian konflik Amerika-Korea Utara, dan aku di tunjuk sebagai salah satu anggotanya.

Segala hal peleraian lewat jalur diplomatik gagal, Korea Utara tak mau membatalkan rencananya, dan Korea Utara mengumumkan akan melancarkan serangan besar-besaran di waktu kapan pun. Tetapi hal itu belum selesai bagi ku aku akan terus memikirkan bagaimana caranya untuk bisa meleraikan konflik ini.
“Sudahlah Zah, kita berdua gak akan bisa melerai konflik besar-besaran ini” jelas Raymond, teman kerjaku.
“shut up! kamu kerjain dulu apa tugasmu! Apakah kamu ingin banyak orang mati akibat peperangan?”
“Whatever, eh Zah ku dengar Amerika akan dapat bantuan dari prmerintah RI lewat jalur militer”
“Bulshit..!” jawabku tak acuh.
“Dasar! Tumpukan kertas itu akan memakan mu Hamzah, awas hati-hati!”

Beberapa minggu kemudian, tampaknya ancaman Korea Utara hanya omong kosong, orang-orang Amerika banyak yang tak menghiraukannya dan menganggap itu hanyalah sekedar isu, aku pikir Korea Utara membatalkan serangannya atau entah bagaimana. Namun, sepertinya hatiku mulai ingin hijrah kembali ke tanah air, dan mulai menulusuri Indonesia untuk mencari Kak Hamid, entah mengapa dalam benakku selalu tergebu-gebu untuk mencarinya, aku mulai muak dengan tantangan ini aku hampir habis terlalap mesin ketik di ruangan ini, pikirku dalam hati.
“Hei! Tak menyangka kau ada disini!” tiba-tiba seseorang memanggilku.
“Siapa?” jawabku acuh tak acuh, karena aku sedang sibuk dengan komputerku
“Oi, Hamzah!” panggil orang itu seolah-olah ia mengenalku.
“Raymond? Gimana hasil nya?” jawabku, ku kira orang itu adalah Raymond.
“Hamzah! Aku bukan Rayon atau siapa itu namanya dan aku di pihak mu!” jawab orang itu.
Perlahan ku tengok kan kepala ku ke arah orang itu, ternyata seorang prajurit tentara lengkap dengan senjata sniper H&K G-3 di pelukannya, dan orang itu adalah orang yang membuat air mataku menetes dengan tiba-tiba.
“Kak Hamid?! Benar kau Kak Hamid?! Astaga! apakah kau mencariku? Kenapa kau ada di sini? Kok bisa? Hahahaha! Lihat uban mu?”
“Hamzah! Hahaha! Hamzah, Hamzah tak kusangka kau akan memakai kacamata” Takjub Kak Hamid seraya berlari memelukku, den sesekali meemegang kapalaku.
“Kak, kemari jangan disini reuni nya, kita harus masuk ke ruangan yang aman!” ujarku
“Baiklah” jawab Kak Hamid.

Lalu ku ajak Kak Hamid menuju ruang kerjaku. Di perjalanan aku telah banyak merancang kata untuk membuat pertanyaan kenapa ia ada disini, dan meyakinkan bahwa ia adalah benar-benar saudarku yang telah lama terpisah.
“Duduklah, Kak!”
“Baiklah, kita mulai darimana pembicaraan ini?!” tanya Kak Hamid.
“itu seragam mu?” Tanya ku.
“Oohh, aku jelaskan mulai dari seragamku. Aku masuk dalam prajurit yang dikirim pemerintah RI dalam misi perdamaian konflik Amerika-Korut, aku kemari bersama prajurit lainnya yang terbagi dalam tiga gelombang, kebetulan aku masuk dalam gelombang pertama dan aku bisa di bilang veteran di kelompok ku. kami cenderung memihak ke Amerika karena hubungan diplomatik kami dengan mereka sangat erat. Begitulah ceritanya” jelas Kak Hamid.
“Lalu? kenapa kau bisa masuk dalam pasukan ini? Sejak kapan” tanyaku lagi.
“Hahah, Hamzah. Aku tidak ingusan seperti kecil dulu. Begini.., dulunya? Setelah kita berpisah, aku memilih ke timur karena aku tahu, jika aku berlari terus aku akan menemukan tempat Pendidikan Prajurit Rakyat, tapi tak mudah! Aku dulu masih berumur 13 tahun, aku belum mencapai syarat utama untuk masuk dalam tempat itu! Aku menghabiskan waktu 4 tahun untuk menjadi kuli bangunan saaat itu, dan akhirnya? Lewat kerja keras dan kesabaran aku dapat memasuki tempat itu dan menjadi satu-satunya penembak jitu pada saat itu. Dan kamu, Zah? Kenapa jas dan kacamata menempel di tubuhmu?”
“Huft, itu perjalanan yang memalukan bagiku, aku tak sekuat dirimu, Kak! Perintahmu itu? Ketika aku pergi ke arah barat sangat tepat! Aku hanya jadi pengemis disana! Bahkan aku menjual satu-satu nya barang yang bakal jadi kenangan, Panah! Ya, senjata tradisional itu ku relakan untuk ku jual demi bisa masuk di tempat salah satu tempat Pendidikan di daerah sana, di Yogyakarta. Tetapi aku hanya dapat duduk di bangku selama tujuh bulan! Beruntungnya, ada seseorang guru besar yang takjub terhadap kecerdasan ku dan memungut aku sebagai anak nya, dan akhirnya aku di kirim ke sekolah Politik di Washington, ya…, inilah aku jadinya! Mendapat tugas sebagai anggota dari sebuah komisi yang bertujuan melerai lewat jalur diplomasi” jelas ku panjang lebar.
“Hei, Hamzah apakah kau gila?” tiba-tiba Raymond memotong pembicaraan.
“Heiheiheihei, kau Raymond? Kenalkan ini kakakku, Hamid! Kak Hamid? Ini Raymond!”
“Aduh, Hamzah? Habis makan apa kau? Bicara dengan siapa kau? Sudah kubilang tumpukkan kertas itu akan memakanmu Hamzah! Kendalikan akalmu, jangan biarkan semua ini membuatmu menjadi terhalusinasi! Masih banyak yang harus kita selesaikan!” jelas Raymond dengan kata-kata yang tak ku mengerti.
“Haduhh, Raymond! Kamu ini! Kamu sudah benar akan beritamu, dan inilah kakak ku! Ia tergabung dalam squad militer dari pemerintah RI, kamu benar Raymond.!” Jelas ku, agar Raymond tak keliru.
“Setan kau Hamzah, memang benar itu! Tapi tidak di kirim ke Washington, tetapi di New York! Kerasukan apa kau ini?! Tak mungkin seorang prajurit masuk gedung ini?! Sendirian lagi! Tanyakan kepada Kakak khayalan mu itu? Mana surat tanda kemiliterannya?!”
“Mana Kak!? Tunjukkan saja kepada si tolol itu!?”
“Mana?! mana?!” desak Raymond, yang tak ada maksud itu.
“Aduh Raymond kamu ini! Jangan menyinggung kakakku. Ntar dia pergi dari gedung ini, tuuukan merengut Kak Hamid nya!”
Tiba-tiba sirine tanda serangan udara terdengar di kuping ku, kurasa ini adalah serangan lewat pasukan penerjun.
“Hamzah, ayo pergi! ini serangan rudal dari Korut!” ajak Raymond yang semakin lama semakin ngawur.
“Mengapa kau khawatir? Ini adalah serangan penerjun, tidak terlalu berbahaya! kita masih aman, lagi pula kita masih punya prajurit handal disini, hahaha! Betul kan kak?”
“Sadarlah! Sadarlah Hamzah! tak ada namanya Kakakmu itu! Yang ada kita harus kabur!”
“No!, aku ingin nostalgia dulu.!”
Tiba-tiba Raymond menarik ku dengan paksa untuk keluar bangunan, ku dengar banyak suara ledakan di sekitarku.
“Dimana kakak ku?” tanyaku.
“Sudahlah! Jangan bodoh! Kita harus berlari, kita harus pergi ke dalam tanker bawah tanah!” jelas Raymond.

Kami pun keluar gedung, entah dengan maksud apa temanku satu ini. Tiba-tiba sebuah rudal menghatam daerah seiktar kami dan menciptakan ledakan hebat, sehingga kami pun terpental jauh.
“Raymond! Kita harus kembali ke gedung! Untuk menyelamatkan kakakku”
“Loss!” jawab Raymond.
“Ayo Raymond!” ajakku.
“Bukan, bukan itu yang ku maksud, aku berkata lost! Kalah! Kita kalah Hamzah! semua orang berteriak menjemput kematian, ini buruk Hamzah! Jika kau dapat melihat dengan jelas kau akan merasakaanya” kulihat wajah Raymond mengeluarkan air matanya.

Tiba-tiba rudal yang lain menyusul dan membuat ledakkan, lagi-lagi kami terpental jauh tetapi kali ini dalam jarak yang berbeda. Na’as, sebuah besi menancap di perutku aku merasa ngilu dan pedih dan sisa-sisa ledakan masih mengiung mengganggu pendengaranku, tidak beberapa lama tiba-tiba Raymond mendatangiku dengan mimik wajah yang tak jelas lalu ku balas dengan senyuman di bibirku.
“Kau tahu Raymond?! Kau benar!.. se..sekali la..gi kau be…bbb…nar! aku dapat merasakan nya Raymond! Aaa…aaaku sedang dalam sa…dar, dan ak..kkku merasakan panasnya Indonesia, ak..ku melihat cahaya disana”
“Hamzah! Walaupun kau hanya menghayal! Aku tahu karena ini adalah wujud keinginanmu yang tak terwujud, aku tahu Hamzah”

Aku hanya menjawab dengan senyuman, karena aku sadar aku tak mampu menjawabnya, karena aku sadar kak Hamid itu tak kan bertemu aku, karena aku sadar azal akan menjemputku, dan aku akan segera mati, mati sebagai seseorang yang sendiri dan tak berguna. Karena inilah jejak terakhirku, jejak pencarianku yang tak berguna dan tak berbuah hasil.
Washington 23 september 2014.
 

Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk

By Beraya Media | At 12:05 | Label : | 0 Comments
Wiro Sableng #164 : Janda Pulau Cingkuk

WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : SI CANTIK GILA DARI GUNUNG GEDE

KESERAKAHAN manusia terhadap tahta, apalagi tahta yang dikuasai secara merebut dan tidak sah, pada akhirnya bilamana kehendak Yang Maha Kuasa berlaku maka semua kekuasaan dan keserakahan itu akan menjadi bencana. Itulah yang terjadi dengan Nyi Harum Sarti yang menobatkan diri sebagai Ratu Laut Utara, merampas tahta Kerajaan Laut Utara dari tangan Ayu Lestari, yang menerima warisan syah dari Ratu Sepuh Ratu Pertama Kerajaan Laut Utara.

Nyi Harum Sarti akhirnya menemui kematiannya di tangan Ratu Duyung yang membekal Pedang Naga Suci 212 pemberian Sinto Gendeng. Karena kecintaannya pada Pendekar 212 Wiro Sableng, di saat-saat nyawa akan lepas meninggalkan jazad kasarnya Nyi Harum Sarti masih sempat mengeluarkan ucapan yang sungguh meng-harukan namun ditutup dengan kata-kata yang membuat murid Sinto Gendeng menjadi terkesiap dan dingin sekujur tubuhnya.

Dalam keadaan tubuh bersimbah darah Ratu Laut Utara melangkah terhuyung-huyung, berusaha mendekati Wiro. Dua langkah dari hadapan sang pendekar dia tak mampu lagi berjalan, jatuh ber-lutut tapi kepala masih menatap lurus ke arah Wiro dan mulut masih mampu keluarkan ucapan.

"Wiro. Kasih sayangku padamu bukan nya loyang. Kasih sayang-ku padamu akan aku bawa sampai ke liang lahat. Aku sangat berbahagia karena kau turut menyaksikan kepergianku. Walau di dunia kita tidak bisa bersatu, aku akan menantimu di akhirat..."

Ratu Laut Utara ulurkan tangan kanan, berusaha menyentuh wajah Pendekar 212. Namun tangan itu terkulai jatuh ke tanah. Tubuh kaku tak bergerak tapi mulut masih sanggup mengeluarkan kata-kata walau kali ini suara yang keluar jauh lebih perlahan, tak ada yang mendengar kecuali Wiro.

"Kekasihku, ini bukan akhir dari satu perjalanan. Ini bukan akhir dari segala-galanya. Kita akan bertemu lagi. Karena aku akan menitis masuk ke dalam diri Ken Permata..."

Pendekar 212 serta merta merasa sekujur tubuh mendadak menjadi dingin. Apa barusan dia tidak salah mendengar. Apa dalam keadaan sekarat perempuan itu sadar akan apa yang diucapkannya? Ken Permata adalah puteri Nyi Retno Mantili, istri mendiang Patih Kerajaan Wira Bumi, yang selama ini dicarinya dan sekarang tidak tahu berada di mana. (Kisah terbunuhnya Ratu Laut Utara alias Nyi Harum Sarti oleh Ratu Duyung dapat dibaca dalam episode sebelumnya berjudul "Cinta Tiga Ratu" sedang kematian Patih Wira Bumi dituturkan dalam serial Wiro Sableng berjudul "Bayi Satu Suro". Patih kerajaan itu menemui ajal ditangan Pendekar 212 Wiro Sableng dengan golok besar milik Wira Bumi sendiri).

Perlahan-lahan tubuh Ratu Laut Utara terhuyung ke depan lalu tersungkur di tanah. Mahkota emas bertabur batu permata tanggal dari kepala, terjatuh ke tanah. Ratu Sepuh menatap sayu ke depan. Dengan ujung tongkat emasnya dia mengait mahkota yang jatuh lalu menyerahkan pada Ayu Lestari.

"Akhir dari nafsu berkuasa dan keserakahan..." ucap Ratu Pertama Kerajaan Laut Utara ini dalam hati.

Sementara semua orang terdiam dalam pikiran dan hati masing-masing tiba-tiba satu bayangan biru berkelebat Satu tendangan melesat cepat dan deras. Tubuh tak bernyawa Ratu Laut Utara mencelat mental lalu terkapar di tanah. Mulut dan sebagian mukanya tampak hancur mengerikan.

Semua orang tersentak dan berseru kaget. Memandang berkeliling mereka melihat Bidadari Angin Timur yang sejak tadi berdiri di samping Ratu Sepuh tak ada lagi di tempat itu. Wiro ingin sekali mengejar ke arah lenyapnya gadis berambut pirang itu. Namun dalam keadaan seperti itu dia merasa tidak enak melakukan hal itu.

"Dia menendang kepala mayat, apakah karena ada dendam dan sangkut pautnya dengan ucapan Ratu Laut Utara yang mengatakan dirinya janda." Membatin murid Sinto Gendeng.

Sebelum tewas di tangan Ratu Duyung seperti telah diceritakan sebelumnya dalam episode "Cinta Tiga Ratu", Ratu Laut Utara dengan suara lantang setengah berteriak saat itu berkata sehingga semua orang mendengar.

"Wiro, aku tahu kau tidak mencintai gadis bernama Ratu Duyung yang setengah manusia dan setengah ikan itu! Aku juga tahu kau tidak mencintai gadis berambut pirang bernama Bidadari Angin Timur yang janda muda dari Kepala Pengawal Kesultanan Cirebon Tubagus Kesumaputra itu!"

Murid Sinto Gendeng menggaruk kepala.

"Uuhhh..."

Bujang Gila Tapak Sakti yang sejak tadi berdiam diri tak dapat menahan sakit, keluarkan suara mengeluh sambil pegangi bagian bawah perutnya yang bengkak melembung akibat sengatan tubuh kalajengking beracun yang dilepas Ning Kameswari atas perintah Datuk Api Batu Neraka salah seorang pembantu kepercayaan Ratu Laut Utara. Dikisahkan dalam episode "Cinta Tiga Ratu", Datuk Api Batu Neraka menemui ajal dibunuh Jin Durna Rawana sedang Ning Kameswari tewas ditendang Ratu Laut Utara.

"Gendut, kau tenanglah barang sebentar..." kata Ratu Sepuh pula.

"Bagaimana bisa tenang Nek. Kau tidak merasakan. Anuku melembung bengkak. Sakitnya seperti ditusuki ratusan jarum api! Delapan puluh tahun hidup di dunia baru kali ini sengsara begini rupa. Kalau tidak percaya apa kau mau lihat sendiri?!"

Habis berkata begitu Bujang Gila Tapak Sakti hendak rorotkan celana komprang hitamnya. Ratu Duyung cepat-cepat melengos. Ayu Lestari melongo kaget dan memandang ke jurusan lain. Nyi Roro Manggut mesem-mesem palingkan kepala tapi setengah-setengah masih melirik juga.

Ratu Sepuh angkat tongkat emas di tangan kanan.

"Kalau kau berani kurang ajar, aku gedor barangmu. Kau akan sengsara seumur-umur!"

Bujang Gila Tapak Sakti bergumam dan cemberut kesal mendengar perabotannya akan digedor! Sambil menahan sakit dia mundur dua langkah menjauhi ujung tongkat si nenek yang siap disodokkan ke bagian bawah perutnya.

3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa Versiku

By seo blade | At 10:46 | Label : | 0 Comments
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa Versiku Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
3 Tahun, 3 Cerita, Kau Tetap Perempuan Istimewa Versiku
SEO BLADE® - Namaku Iwan, aku adalah seorang anak remaja yang sedang mencari jati diri. Aku baru saja menamatkan sekolah menengah pertamaku dan tak sabar rasanya untuk segera memulai masa SMA di sekolah baru nanti.

Bingo! Betapa bahagianya aku setelah mendapatkan kursi di sebuah SMA Negeri favorit di Kotaku, semakin tidak sabar saja rasanya. Sekolah baru akan dimulai 3 hari berikutnya, aku memanfaatkan waktu luangku untuk prepare keperluanku saat hari pertama sekolah nanti dan sekalian aku berpamitan dengan pacarku yang baru saja naik kelas 3 SMP. Ya, kami berbeda 1 tahun, oleh karena itu aku berpamitan karena kita mungkin tidak akan bertemu setiap hari lagi di sekolah yang sama. Memang tersirat rasa sedih saat mengatakan kalimat perpisahan, meskipun hanya berpisah sekolah. Kita berjanji untuk saling setia dan menjaga hati masing-masing.

“see you di SMA sayang!” kata Lusy sambil berbalik badan bergegas masuk rumah, usai aku mengantarnya pulang hari itu.
Akhirnya hari mulai sekolah tersisa 1 hari lagi. Tak sabar menunggu esok rasanya, merasakan sensasi sekolah baru. sambil asik aku packing untuk peralatan yang harus dibawa esok hari, aku mengirim SMS pada Lusy.
“Sore sayang?” Sapa ku pada Lusy.
“Sore” jawab jawabnya singkat
“Lagi ngapain?” Tanya ku.
“Lagi Belajar”
“berarti ganggu dong?”
“hmm, Sedikit!” jawab Lusy. Baru sekali ini dia bilang aku sedikit mengganggu.
“Oh, It’s Okay, maaf ya ganggu, selamat belajar” ucapku menyudahi percakapan.

Sempat merasa heran karena Lucy sedikit aneh sore itu, tapi ah, ya sudahlah aku tidak ingin ambil pusing terlebih aku takut lebih mengganggunya nanti. Aku pun melanjutkan packing.

Malam harinya terdengar nada pesan berdering di Handphoneku, kulihat itu dari Lusy.
“Iwan, aku ada perlu!” bunyi SMSnya.
Kujawab “apa?”, sepertinya ada yang perlu dia katakan karena isi SMSnya tak pernah seserius itu.
“aku mau bilang sesuatu sama kamu, penting!”
“iya, ngomong aja sayang?” tanyaanku dengan sejuata rasa penasaran.
“Maafin aku, aku bukan cewe yang baik buat kamu..”
“Wait.. Wait! Maksudnya apa sih Lus?”
Lalu dengan kalimat tegas Lusy menjawab
“Intinya! Aku gak tau harus gimana, rasanya kita udah gak cocok wan, aku kira kita putus aja ya?”
Jantungku seakan berhenti berdetak sesaat.. tak sadar aku melongok heran. Sebenarnya aku tak mendapatkan alasan yang logis dari semua ini, namun karena Lusy bersikeras ingin berpisah denganku, ya mau apalagi, harus kubendung kekecewaan yang amat besar dalam hidupku. Cinta pertamaku, lusy kini pergi.

Besoknya aku memulai hari pertama sekolahku dengan masih menyisakan rasa galau. “Cepat! Jangan malas! Baru masuk SMA udah malas!” bentak seseorang di depan gerbang, ketus sekali Seniorku ini. Memang hal yang wajar ketika masa-masa orientasi sering dimanfaatkan kakak kelas untuk membully siswa baru, kalau bahasa gaulnya di “ospek”.

3 hari ospek yang sangat melelahkan telah kulewati, hampir tak da waktu santai rasanya, namun semua terbayarkan setelah bertemu dengan banyak teman baru, dengan karakter dan kepribadian yang baru, it’s interesting. Tiba akhirnya kegiatan belajar mengajar dimulai, aku telah kenal dengan Aryo, Rasmin dan Andra. Kita berempat sudah klop semenjak masa-masa orientasi, jadi tak butuh waktu yang lama untuk menjadi akrab.

Aku sering memperhatikan Aryo yang sepertinya tengah dilanda jatuh cinta. Ya, jatuh cinta pertamanya di SMA. Usut di usut ternyata Aryo memang naksir dengan perempuan kelas sebelah yang bernama Budi. Hehehe, no no no.. im joking, namanya Khairunnisa, sering dipanggil Nisa. Buatku Nisa orangnya biasa saja, nothing special, tapi kita tahu bahwa selera manusia berbeda-beda.

1 minggu berlalu, sepulang sekolah kurebahkan tubuhku di sofa rumah. Handphoneku berbunyi, kulihat Lusy mengirmkanku pesan singkat.
“hey! Siang Iwan.”
“Siang Lusy, ada apa?” jawabku sekaligus bertanya.
“aku mau minta tolong boleh?”
“aku kesepian, aku ternyata masih butuh kamu, mau kan kamu balikan lagi sama aku?”
Jujur aku masih sangat berharap pada Lusy, jadi tanpa banyak basa-basi aku menerima tawarannya lagi. Ahh! senangnya siang itu. Kini aku dan Lusy kembali menjadi sepasang kekasih yang dimabuk asmara seperti layaknya anak muda lainnya. Tak terasa sudah 8 bulan aku dan Lusy berpacaran.

Di sekolah aku telah memasuki pertengahan semester yang dimana sebentar lagi akan digelar UTS.
“Wan! Gila deh, Nisa emang cakep abis!” bisiknya padaku. Saat itu aku dan Aryo sedang mengintip ke kelas sebelah dengan maksud melihat Nisa. Ya, itulah kebiasaan si Aryo setiap harinya, sementara aku hanya kali ini mau ikut-ikutan dia. Tak sengaja aku lihat teman sebangku Nisa, perempuan yang menurutku jauuuh lebih cantik dari Nisa, membuatku terperangah.
“Yooo… cakep bangeet, kok gue baru liat tu cewek ya!”
Aryo dengan pede nya menjawab “Yo’i kan gue bilang apa bro Nisa emang cakep kan!” sambil tertawa bangga,
“Bu..bu..Bukan! tuh yang sebelahnya!” jelasku dengan masih terpesona.
“ooh yang onoh! Bilang dong! Namanya Alia! Dia temen SMP sekaligus tetangga gue!” kata Aryo berturut-turut.
“hah.. lo tau Yo? Kok lo baru bilang punya tetangga cakep? kayanya dia cewek tercantik yang pernah gue liat di SMA ini!” kataku memuji.
“hahaha! Cewek kaya gitu? Cantik sih, tapi inget bro, masih baaaanyak yang lebih cantik dari dia, salah satunya, NISA!” kata Aryo dengan sombong. Disitu setelah melihat Alia membuatku lupa akan Lusy pacarku itu. Baru sekarang aku merasakan seperti ini. “Alia”, perempuan tercantik versiku.

Kembali ke hubunganku dengan Lusy, entah kenapa sewajarnya saja ada rasa penasaran untuk bertanya lagi alasan yang jelas tentang mengapa Lusy saat itu meninggalkan aku, meskipun saat ini hubungan kami membaik, tapi tidak ada salahnya toh. Aku bertanya pada Lusy, mengapa?
Lusy tampak bingung dan seperti ingin mengelak saat kutanyai seperti itu. Tapi elakannya tak berarti bagiku, dan tidak mengurungkan niatku untuk mengetahui alasan yang pasti tersebut.
“please, aku Cuma pengen tau Lus, aku kan masih pacar kamu?” pintaku.
“iya, tapi buat apa Wan, sekarang kan aku udah balik lagi sama kamu” rayunya.
“no, semua harus jelas Lus, kenapa sih?” kataku menekannya lagi.
“udah deh Yang, gak penting kok!”
“Don’t be Bullsh*t! aku mulai kesel sama semua bantahan kamu!”.
“tapi..”
“Aaah! Kenapa sih kamu takut buat terbuka sama aku sekalipun!” potongku.
“okay! Aku ngalah!” jawab Lusy akhirnya menyerah.

SMSan ini sempat tertunda 20 menit lebih dan akhirnya Lusy membalas juga.
Isi SMS Lusy..

“Maaf, jujur aku Minta maaf, aku gak konsisten sama perasaan aku, aku gak bisa jaga kesetiaan kamu, maafin aku! Kemarin, Sandy, cowok yang pernah aku suka, dia bilang Sayang sama aku! Jadi aku coba buat buka hati aku dulu buat dia.. tapi teryata dia gak serius. maafin aku sayang L, aku sayang kamu!”

Setelah membaca pesan itu aku langsung down. Aku tak menyangka perempuan yang amat aku cintai sebegitu teganya kepadaku.
“kamu gak becanda kan Lus?” kataku memastikan.
“aku serius!! Maafin aku cinta” kata Lusy memohon. Fikiranku menjadi sulit fokus, hanya melamun, dan merasakan sakit hati yang meledak-ledak. Setelah setengah jam kemudian aku mampu menenangkan diri, inilah pesan yang aku kirimkan pada Lusy..
“Kita putus.. semua udah gak akan bener kalo hati kamu udah terbagi” kataku dengan bulat dan singkat. Tak berapa lama Lusy menelfonku, namun saat ku angkat di telefon hanya ada suara tangisan Lusy, aku sempat iba, namun aku tau memang Lusy sejak dulu mengharapkan Sandy, laki-laki yang pernah menghubunginya itu jadi aku lebih baik menyingkir. Inilah akhir cerita sebenarnya antara aku dan Lusy.

Kini, kembali aku membujang, telah ku hapus jauh-jauh perasaan tentang Lusy, dia hanyalah kesalahan terbesar dalam kehidupan cintaku. Aku seperti biasa belajar di sekolah demi menghadapi UTS. Saat waktu istirahat tiba aku duduk sendiri di depan kelas, namun tiba-tiba Alia lewat di depanku dengan wajah yang tampak tersipu malu. Senyumnya membuatku segar kembali hari itu dan selalu tampak menggoda dibalik jilbab yang dia kenakan. Fikirku, kali ini aku single, so, kenapa aku tidak mengejarnya saja? Lagipula Alia memang sudah tau kalau aku telah mengaguminya sejak lama. Yes! I’ll do that. Aryo sepertinya sedang tidak ingin membantuku karena dia pun sedang kasmaran, jadi mana mau tau urusan cinta orang lain. Aku memperhatikan Alia, dan akhirnya ide untuk bisa mendekatinya kutemukan. Aku bertemu dengan Gina, dia siswi dari Jakarta namun kita sudah saling kenal. Gina adalah teman sekelas Alia, aku menggunakan jasanya untuk menjadi Makcomblangku. Sepulang sekolah aku cegat Gina dan meminta bantuannya.
“nih bang nomernya si Alia. Ntar malem lo SMS aja!” kata Gina sambil menunjukan nomer Alia di Handphonenya.
“asek! Thank’s ya sist!” akupun bergegas pulang. Memang tak sulit untuk berbisnis dengan Gina, Selain orangnya baik, kita sama-sama orang betawi jadi lebih cepat akrab.

Di rumah kucoba menyapa Alia lewat SMS.
“Haaii Alia?”. Na’as tak ada balasan dari Alia, membuatku galau sesaat. Besok nya di sekolah Gina menemuiku.
“bang! Gawat, Alia marah-marah soalnya dia paling gak bisa kalo cowok asing ngeSMS dia!”. Kata Gina kebingungan. Ini situasi yang gawat, berarti Alia memang tidak ingin membuka diri.

Akhirnya aku berniat memberanikan diri untuk menjumpai Alia langsung. Di jam istirahat kedua kulihat Alia sedang asik mengobrol dengan Nisa. Kuhampiri Alia dengan merasakan kaki yang terasa kaku menanggung grogi.
“Alia, bisa ngomong sebentar?” tanyaku kepadanya. Nisa dengan sendirinya pergi meninggalkan kita berdua,
“ada apa?” kata Alia dengan senyumnya yang malu-malu menghias wajahnya yang sama-sama memerah sepertiku. Dia menatap wajahku.
“maaf ya, kemarin aku yang SMS Kamu, terus aku denger kamu marah, jadi aku minta maaf? Tapi suerr!! aku udah hapus nomer kamu kok!” jawabku.
“oh, hehehe.. kamu lucu deh. Iya gak apa-apa, emang aku kurang terbiasa kalo ada orang asing SMS aku” jelasnya.
“aku kan bukan orang asing?”
“iya bukan kok Iwan” .. Alia menyebutkan namaku sambil tersenyum, indah sekali rasanya.
“so, boleh dong aku SMS kamu?” goda ku.
“hmm.. Nanti aja deh ya” jawab Alia singkat. Niatku kali ini gagal, tapi tak apalah, aku tak mungkin memaksanya. Yang jelas waktu ngobrol tadi adalah the Best situation ever. Aku pun pamit dari Alia dan bergegas menuju kelasku.

Hari demi hari di Sekolah aku habiskan bersama usahaku mendekati Alia. Semakin hari dia semakin cantik saja. Selalu pipinya merah merona saat berpapasan denganku. Sial! Aku benar-benar sedang jatuh cinta. Memang terkadang usahaku gagal, seperti ada kala aku membelikannya makanan saat istirahat, sebungkus nasi goreng dari kantin telah ku jingjing. Aku menghampiri Alia dan memberikan Bungkusan ini untuknya.
“Alia! ini ada makanan, kamu pasti belum makan” tawarku padanya.
“aduh ngerepotin!, ini ikhlas kan?” Tanya nya sambil melempar senyum.
“ikhlas banget kok” jawabku.
“yu, dimakan ya, aku tinggal dulu!” aku pergi meninggalkan Alia. Fyuh!, lega rasanya karena Alia menerima bungkusan Nasi goreng itu.

5 menit selanjutnya aku tak sengaja lewat di depan kelas Alia, kulihat Alia sedang mengotak-atik handphonenya. Dimana nasi goreng yang tadi aku berikan?.
Setelah kucari-cari ternyata sebungkus nasi goreng itu sedang di makan oleh Zaky, laki-laki pendek dan gembul yang sering menggodanya di kelas. Payah! Rupanya Alia memberikan Bungkusan itu pada Zaky. Tak apa lah, meskipun secara tidak langsung aku merasa gagal total, aku ikhlas.

Alia akhir-akhir ini memang selalu menjauh, tidak memberikan respon positif padaku. Aku sering melihatnya senyum-senyum sambil menerima telefon, entah dari siapa tapi aku tak curiga karena sudah rahasia umum kalau Alia sangat menutup diri jadi tidak mungkin kalau ada laki-laki yang menelefonnya. Manjauhnya Alia ini membuatku amat galau dan frustasi, jadi aku mencari informasi tentang Alia yang sekarang. Sepeti biasa aku panggil Gina. Ku minta dia agar melacak apa yang sedang terjadi pada Alia.

Besok harinya Gina berlari menghampiriku sambil tergesa-gesa.
“Bang! Lo jangan nangis ya?” katanya meledekku.
“hah? Maksud lo? Ada apa sih? Kaga bakal nangis gue!”
“Alia, setelah sekian lama ngejomblo sekarang dia udah punya pacar!!!”
Tuuuuuuttt!!! Detak jantungku berhenti lagi sebentar. Memang faktanya Jantung akan berhenti sebentar ketika kita mendengar hal yang buruk tentang cinta. Entah dengan hal yang lain.
“serius lo?” tanyaku untuk meyakinkan diri.
“beneran! Pacarnya dokter bang! Tiap malem minggu ngapelin sib do’i!!”
Ahhh!! Galau kembali kualami. Lagi-lagi kegagalan dalam cinta monyet. Dasar monyet! Kataku mengatai diri sendiri.

Terpaksa aku menjauh dari Alia yang sudah milik pak dokter sekarang. Gina selalu menyabarkanku, membuat aku kembali tegar. Aku dan gini yang setiap hari bertemu untuk curhat menjadi lebih dekat, dan lebih fatalnya! Kita saling suka satu sama lain berjalan 5 hari pendekatan, aku dan Gina terlibat Teman tapi mesra. Kita bersahabat namun rasanya seperti pacaran. Ya, biasa lah. Sampai akhirnya naik kelas 2 Gina pindah sekolah dan tidak pernah mengabari aku lagi.

Tak terasa Aku naik kelas 2 SMA dan masih jomblo. Hidup bebas namun terlantar, haus perhatian dari wanita. Kulihat Alia yang masih berbahagia dengan dokter itu. Terlihat dari mimiknya yang selalu berseri-seri. Jika harus memilih antara aku dengan dokter, sudah pasti dokter lebih unggul. Haduh! Galaunya hati ini melihat orang yang kita sukai tidak menghiraukan kita. Tak butuh waktu lama setelah tekanan pesona bertubi-tubi dari Alia, aku tidak dapat menahan hati lagi, dan jatuh cinta lagi. Tak peduli dia kini sudah jadi pacar dokter. Kucoba mendekatinya lagi yang saat itu di siang hari sedang murung, berbanding terbalik dengan mentari yang bersinar cerah. Ku hampiri Alia.
“hey.. Sendirian aja?” godaku.
“eh, kamu.. iya nih, lagi bad mood!” jelasnya. Dengan inisiatif seorang laki-laki yang sedang dilanda asmara, aku menghiburnya, hingga akhirnya kulihat wajahnya kembali memancarkan senyumnya yang masih cantik seperti dulu. Ah.. aku rindu senyum Alia. Intinya siang itu setidaknya aku berhasil membuat Alia tersenyum lebar kembali. Setelah ngobrol ngalor ngidul di balkon kelas, aku iseng bertanya.
“hm, sama yang dokter itu masih?” dengan nada menggodanya.
“hehe udah engga kok” jawabnya. Disitu aku masih sok cool, padahal di dalam hati aku riang bukan kepalang.
“eh, mau tau rahasia aku gak?” sambung Alia lagi.
*what? Alia mau bagi-bagi RAHASIA nya denganku! Mimpi apa aku semalam.
“mau, rahasia apa Al?” kataku penasaran.
“tapi jangan sampe bocor ya?”
“iya beres deh”
“sebenernya.. Dokter itu Kakakku, aku pura-pura punya pacar supaya aku aman. Jadi aku minta tolong dia..” jelas Alia. ooooh..
“maksud kamu? Aman dari aku?” sindirku.
“ya, soalnya aku risih buat pacaran” ujar Alia.
“tenang aja Alia, aku ga bakal aneh-aneh kok, aku mengagumi kamu sewajarnya aja lagi, meskipun sampe sekarang masih belum bisa move on dari kamu” godaku pada Alia..
“iya–iya.. hehe” sahut Alia.
“eh, tapiii…”
“tapi apa Wan?” Tanya Alia.
“masih belum bisa ngasih nomer handphone nya ya?” celetukku.
“hehe, pengen banget ya?” ledek Alia padaku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
“mana kertasnya?”. Ditulislah nomer handphone nya dalam kertas yang aku berikan namun menyisakan 1 digit yang kosong.
“nih aku sisain 1 nomer akhir, kamu yang cari aja” tantang Alia.
“it’s okay!” Alia lalu pergi pulang dan menunggu sepi aku melampiaskan kebahagiaanku di tempat itu juga. Benar-benar rezeki besar!!.

Setelah di rumah ku kirimkan pesan ke 10 kontak sekaligus dengan menyisipkan nomor berakhiran 0-9. Ternyata yang paling tepat adalah angka 1. Mudah saja bukan..
“halo Alia?” begitu isi pesanku ke semua nomer. Lalu nomer dengan akhiran 1 membalas,
“ya, syp?” jawabnya singkat.
“ini aku Iwan!?”
“oh, iya ada apa?” tanyanya. Entah perasaanku saja, tapi aku merasa Alia ini sangat ketus di SMS jadi hari itu aku akhiri dengan “Save nomer aku ya Alia”..

Berhari-hari aku terus coba menghubunginya lewat SMS namun tetap sama ketusnya, yang jelas aku benar-benar jatuh cinta yang kedua kalinya dengan orang yang sama, Alia.
Mungkin sudah hal lumrah jika seorang perempuan di kejar-kejar laki-laki akan merasa senang, dan aku yakin itu juga terjadi pada Alia. Namun entah mengapa aku merasa ada yang lain dari sifat Alia terhadapku. Di suatu kesempatan Alia pernah menyuruhku mengerjakan tugas kelasnya, dengan alasan “malas” dia meminta tolong padaku.
“tolong kerjain ini yah..” suruhnya padaku.
“kenapa gak di kerjain sendiri?” tanyaku penasaran.
“hmm.. males!” jawabnya singkat sambil tersenyum. Okay! Demi Alia, aku rela.. namun disitu terdapat Aryo dan Rasmin, sahabat dekatku yang memperhatikan aku sedang mengerjakan tugas Alia. Singkat cerita tugas Alia telah selesai aku kerjakan. Lalu Alia berterimakasih dan pergi ke kelasnya dan tak lama Aryo dan Rasmin menghampiriku, membawaku ke tempat sepi.
“gila lo! Mau aja di Babu’in?” kata Rasmin menyentakku.
“kaga! Dia minta tolong doang min!” bela ku.
“udah deh kita liat kok semua yang udah Alia lakuin buat lo, semua motifnya sama!” lanjut Aryo, lalu Rasmin nyeletuk lagi.
“maaf aja ya bro, tapi kita-kita sih ngeliat lo tuh dimanfaatin, soalnya lo naksir Do’I kan?” Tanya Rasmin. Sejujurnya sebenarnya aku merasakan hal yang sama, namun karena perasaan yang begitu besar pada Alia, aku jadi tidak menghiraukannya. Namanya juga Cinta. CInta kan Buta.

Telah berlangsung 3 bulan pendekatanku dengan Alia tidak kunjung membuahkan hasil. Disaat aku telah merasa dekat dengan Alia, dia selalu menjauh, dan itu selalu terulang. Alia memang benar-benar mempecundangiku. dibuatnya aku bagaikan menjadi pengemis yang sedang mengemis pada orang tak punya.

Ada saja gangguan saat pendekatan dengan Alia, salah satunya mungculnya Laki-laki bernama Obi yang bisa kubilang memang good looking. Obi membuat Alia selalu menyibukan diri dengannya. Ya, mungkin mereka bersahabat, namun tetap aku tidak nyaman dengan kehadiran Obi. Alia sesekali sering memanas-manasi aku saat dia sedang bersama Obi, entah apa maksudnya, namun sudah cukup membuatku ilfil. Setelah berfikir cukup panjang aku memutuskan untuk mencoba menjauh lagi dari Alia. Ya, demi menyembuhkan hatiku yang berulang kali jatuh bangun karena cinta. Aku ingin mengistirahatkan hati.

Karena ini cerpen jadi kupersingkat ceritanya, aku naik kelas 3 SMA, masa dimana anak SMA sedang serius-seriusnya. Namun se padat-padatnya jadwal belajar, masih ada sela waktu dimana aku, Rasmin dan Aryo dapat berkumpul sama-sama seperti biasa. Ya, 3 jomblo with Freedom. Oh iya, Aryo pun gagal mendapatkan Nisa. Sekitar 1 semester kita bertiga menjadi single boy, akhirnya di bulan ke 4 semester 2, Aryo dan Rasmin move on mendapatkan kekasih baru. Aryo bertemu dengan Rita, dan Rasmin dengan Ayu. Aku? Masih sendiri. Aku hanya tertinggal sebentar karena tidak lama aku bertemu Dini yang telah menjadi incaran beberapa temanku. Kita mulai dekat dan akrab, dan lagi tak butuh waktu lama, aku dan Dini mulai berpacaran. Demi melenyapkan Alia dalam hatiku. Saat itu kita berhubungan jalan 3 bulan hingga sekolah selesai usai Ujian Nasional. Dini adalah perempuan terbaik yang pernah aku temui, namun meski begitu masih ada yang belum hilang dalam ingatan hati kecilku. Ya, Alia masih membayangi perasaanku, terlebih pada waktu saat aku sedang jalan berdua dengan Dini di sekolah dan berpapasan dengannya di kantin, Alia selalu menunjukan senyum mematikannya seperti dulu, membuatku tak kuasa menyembunyikan perasaanku yang lalu di depan Dini, Juga kudengar Obi sahabatnya itu multifungsi, jadi kadang bisa menjadi cowok, kadang bisa menjadi CEWEK. Mungkin itu yang membuat Alia sekarang menjauhi Obi. Mungkin Alia Geli juga.

Sejujurnya aku punya sedikit masalah dengan Dini. Ya, dini mengambil kehidupanku. Rasanya aku kehilangan duniaku sendiri, karena setiap waktu harus kuhabiskan bersama dia. Mungkin itu yang membuat Aryo dan Rasmin menjauhiku dan menganggapku sombong. Semua begitu berat, karena aku tak ingin kehilangan kawan yang membuatku selalu tertawa. Dini sejauh ini belum mengerti maksud dari kalimat “aku kehilangan Hidupku” so, ini membuatku jenuh dengannya. Aku pergi ke Mushola sekolah. Karena waktu itu sudah selesai UN jadi aku bisa berkeliaran kemana saja tiap waktu. Di dekat WC mushola aku bertemu Alia. Akh! Senyumnya begitu menghipnotistku. Disaat jengah seperti ini aku menemukan sedikit sisa hidupku yang lalu, yaitu Alia. Aku membuat doa usai shalat Dhuha di Mushola sekolah. Aku berdoa agar hidupku yang menyenangkan kembali.

Selepas dari Mushola aku menuju kelasku seperti biasa Dini sudah mengSMSku dan bilang bahwa dia sendirian. Aku bergegas menuju kelas dengan keadaan fikiran yang so .. so.. bad! Namun sekali lagi aku berpapasan dengan Alia di koridor sekolah! Sudahlah, tak sanggup lagi aku pungkiri bahwa aku masih dan telah jatuh cinta pada Alia untuk ke 3 kalinya!. Aku tau ini fatal karena sulitnya melupakan Alia. Oh tuhan aku fikir ini jawaban atas do’aku. Aku memang mendapatkan kesenanganku kembali setelah melihat Alia. Aku telah bulat memutuskan bahwa aku harus fight untuk Alia. Tak peduli keadaan yang tidak enyenangkan menyelimutiku, yang jelas aku telah menemukan seseorang yang bisa membuat aku bisa survive dalam hidupku sendiri lagi.

Aku mulai merenggangkan hubunganku dengan Dini, dan 2 minggu setelah masa-masa menjauh, aku akhirnya selesai dengan Dini. Kita berteman baik hingga sekarang, sepertinya..

Aku kembali membidik Alia, kini aku dan Alia semakin dekat dari tahun-tahun sebelumnya. Dalam pendekatan kali ini aku sudah berani menelefonnya dan dia mulai meresponku. Bahkan aku pernah ke rumahnya, sejauh ini sudah kedua kalinya. Aku bertemu ayah dan ibunya, bukankah itu rezeki? Aku tak tau apa maksud Alia saat suatu hari aku Tanya apakah dia akan memberiku kesempatan untuk bisa bersamanya. Alia hanya menjawab.
“aku gak akan pernah ngasih kamu kesempatan, tapi apapun yang bisa kamu lakuin buat aku, lakuin aja..” jawab Alia. Dan aku yakinkan dia dengan kalimat,
“percaya aku, meskipun ini akhir cerita SMA, tapi aku bakal fight buat kamu, meskipun aku tau gak akan pernah ada kesempatan buatku.., dan aku janji waktu kita ketemu lagi nanti, aku bakal masih Mencintai kamu sebagaimana perasaan aku naksir di waktu pertama, kedua, dan ketiga”..

Sesudah pertemuan terakhir di Rumahnya, kita tidak pernah bertemu lagi, namun aku masih memimpikannya hingga sekarang. Kini aku tau bahwa cinta buta maksudnya adalah membutakan semua pilihan cinta, dan menganggap bahwa hanya dia yang mampu membuatku merasakan hidup yang sebenarnya. Dan satu lagi, apapun yang dia lakukan untuk membunuh perasaanku, aku telah jatuh cinta dengan caranya memperlakukanku. Sekejam apapun itu, aku akan Ikhlas, karena aku tau bahwa ‘cinta’ hanyalah penderitaan, dan dengan ikhlas, aku tak akan pernah lagi menderita.

TAMAT


Penyesalan Terlambat

By seo blade | At 10:06 | Label : | 0 Comments
Penyesalan Terlambat Cerita Motivasi dan Inspirasi
Penyesalan Terlambat
 
SEO BLADE® - Pertemuan singkat itu mengawali kisah kasihku di sekolah. Pertemuan yang akhirnya merubahku menjadi sosok wanita yang tak punya moral. Merubah semua kehidupanku. Kehadirannya di hidupku seakan menghipnotisku untuk mengikuti permainan konyolnya. Permainan yang seharusnya dapat aku jauhi.

Sosok Andi yang biasa menipu semua orang yang ada di dekatnya, cakep sih tapi bertolak belakang dengan sifatnya yang tak pernah mengenal moral dan agama. Dan aku salah satu cewek yang telah terjebak dalam permainannya. Membuatku sulit tuk melangkah meninggalkan sosok Andi yang terlanjur menjadi tamu di hatiku.

Baik, tak akan ku ceritakan panjang lebar Andi itu seperti apa.
Aku siswi SMA Tunas Bangsa kelas XI. Namaku Sinta. Sinta Dwi Prihastuti. Aku berasal dari orang yang berkecukupan. Semua menghormatiku, karena aku anak dari Ayah yang terkenal. Aku anak tunggal dari kedua orang tuaku. Tetapi, walaupun aku anak tunggal orangtuaku tidak pernah yang namanya memanjakanku. Dari kecil aku hidup mandiri. Dan Alhamdulillah sampai umurku 17 ini, aku belum pernah mendapat perlakuan kasar dari orang tuaku sebelum akhirnya Andi merubah kehidupanku.

Perkenalanku bermula saat aku naik ke kelas XI, diamana orang-orang mengatakan masa-masa ini adalah masa nakal-nakalnya seseorang. Andi pindahan dari SMA swasta di Jogja. Dia masuk di kelasku dan duduk di belakang bangku ku. Otomatis aku denngan cepat mengenalnya, selain karena aku orangnya supel aku juga terkenal ramah terhadap siapapun kenal atau tidak itu tidak masalah. Prinsipku menambah teman itu akan sangat berarti untuk masa yang akan datang.

Hari-hariku semakin berwarna dengan hadirnya Andi, selain dia baik dia juga supel sepertiku. Yang aku suka darinya adalah cara dia mendekati cewek. Aku semakin akrab dengannya. Kesana sini berdua, sampai teman-teman mengira kita pacaran. Hahaha… padahal Cuma sekedar teman biasa nggak lebih dan aku sendiri juga tidak pernah berpikiran sampai kesitu.

Hari itu hari Minggu, aku bangun lebih siang dari biasanya, malas juga karena malamnya aku sibuk lembur ngerjain tugas. Yang harusnya malam minggu buat refreshing malah ngerjain tugas. Setelah mandi aku mendapati hpku bunyi. Karena dari tadi malam aku tidak pegang hp, 15 panggilan tak terjawab dan 22 pesan pun aku tidak tahu. Dan itu semua dari Andi. Kubuka satu per satu dari pesan itu, dan aku benar-benar kaget. Andi menyatakan cintanya lewat hp. Dia minta hari ini untuk ketemuan di taman tempat biasa kita main. Aku bukan hanya bingung, pikiranku kacau. Aku bingung antara datang atau tidak. Kalau tidak, nanti dikira aku nggak menghargainya. Tapi kalau datang, aku malu. Malu setelah dia mengungkapnkan perasaannya, dan juga alasan karena aku bingung menerima atau menolak.

“sin, kok diem sih? gimana mau nggak, aku serius sama kamu.” Andi bertanya padaku. Aku masih diam tak berkata apa-apa. “mungkin ini terlalu cepat, tapi aku sudah nggak bias nahan perasaan ini lebih lama lagi sin,”
“Emm… gimana ya Ndi, aku bingung” ucapku. “Lhoh.. kenapa bingung, kamu percaya deh sama aku. Aku bener-bener sayang sama kamu sin”
Aku menatapnya dan tersenyum manis, dia masih mengerutkan dahi. “Aku mau Ndi, aku percaya sama kamu. Selama aku kenal sama kamu. Aku nggak pernah ngerasain kesedihan di hatiku. Aku merasa nyaman aja sama kamu.”
“Makasih sin, aku sayang kamu.” Andi memelukku. Kita jalan sampai sore dan akhirnya aku diantar pulang oleh Andi.

Aku dan Andi sudah jalan 1 tahun, selama setahun itu aku nggak pernah ada masalah sama dia. Dia juga bisa jaga aku. Tapi, akhir-akhir ini, aku sering di ajak ke tempat tempat yang menurutku itu tak pantas untuk cewek seusia aku. Apalagi aku masih sekolah. Dia mengajak aku ke tempat tempat terlarang. Dan kerap kali aku di ajak minum-minuman keras. Dan yang aku herankan, kenapa aku sama sekali nggak nolak ajakannya. Aku merasa senang aja, aku nggak bisa berfikiran jernih. Sampai akhirnya aku mulai berani keluar malam dengan Andi. Orang tuaku sebenarnya sudah melarang, tapi aku malah melawan dan berani membentak orang tuaku dengan alasan aku bosan hidup seperti ini.

Sejak itulah aku menjadi cewek yang suka keluar malam, jauh dari agama, berani dengan orang tua, dan tak jarang aku bolos bersama Andi hanya untuk menghabiskan waktu berdua. Mungkin terlihat aneh, tapi itu kenyataan. Andi benar-benar telah merubah kehidupanku menjadi cewek yang rusak.

Sampai pada suatu hari aku dan andi pergi berdua ke hotel, aku tak menolak dan aku tak pernah berfikiran yang aneh-aneh. Positif thinking saja. Tapi, akhirnya semua dugaanku salah. Andi merusak diriku. Dia menjadikanku sosok wanita kotor yang tak pernah lagi bisa untuk diperbaiki. Dia menjadikan aku dikeluarkan dari sekolah. Aku menyesal, namun semua telah terlanjur. Saat itu Andi bilang mau bertanggungjawab atas semuanya.Tapi setelah usia janin yang ada di kandunganku telah berumur 3 bulan, aku tak pernah lagi mendengar kabarnya. Aku tak pernah bisa menghubunginya. Aku berusaha mencari informasi tentangnya. Tapi yang kudapat hanya cemoohan, hinaan, dan cacian dari mulut orang-orang di sekitarku.

“Ya Allah… ampuni aku. Aku telah menjadi wanita yang kotor, aku hina, aku tak pantas lagi mendapat ampunanMu. Ya allah… Apakah aku masih pantas mendapat seseorang yang bisa amenerima aku dengan kondisiku seperti ini. Agar kelak jika Engkau mengizinkan, biarkan bayi ini mempunyai ayah walaupun ayah itu bukan ayah kandungnya. Ya Allah… aku mohon, izinkan aku mendapat ampunanMu, aku menyesal, aku bertaubat kepadaMu, ya Allah…” aku menangisi semuanya, tapi kini sudah tidak ada guna.

Akhirnya Allah mengabulkan do’aku. Dia mengirimkanku pangeran yang bias menerimaku apa adanya. Aku benar-benar bersyukur.

NB: Untuk sahabatku, berhati-hatilah dalam bergaul. Jangan jadikan hidupmu sia-sia karena nikmat dunia yang hanya sementara. Jadikan dirimu sebagai seorang yang berguna. Jangan mudah terpengaruh godaan dunia. Pegang teguh imanmu. Jangan rusak dirimu sendiri.

Wiro Sableng #74 : Dendam Di Puncak Singgalang

By seo blade | At 09:53 | Label : | 0 Comments



WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : DENDAM DI PUNCAK SINGGALANG

SATU

DUA gunung tinggi menjulang menyapu awan, terlihat jelas dari kejauhan di bawah langit yang biru bersih. Kehadiran gunung Singgalang dan Merapi di daratan tengah pulau Andalas seperti yang selalu diperumpamakan oleh penduduk memang benar yaitu seolah dua raksasa penjaga negeri.
Saat itu menjelang tengah hari. Dari arah danau Maninjau di jurusan kaki gunung Singgalang tampak seorang penunggang kuda memacu tunggangannya menuju ke timur.

Orang ini berusia sekitar setengah abad, berkumis tipis rapi, mengenakan destar tinggi berwarna hitam yang pinggirannya dirajut dengan benang emas. Pakaiannya terbuat dari kain bludru warna hijau yang juga ada renda benang emasnya. Di pinggangnya, di balik ikat pinggang besar terselip sebilah keris. Baik gagang maupun sarung senjata ini terbuat dari emas sedang badannya terbuat dari sejenis besi putih yang dilapisi emas. Setiap sinar matahari jatuh pada gagang dan sarung senjata itu, kelihatan cahaya kuning memantul menyilaukan.

Pada waktu yang hampir bersamaan dari arah kaki gunung Merapi meluncur cepat sebuah kereta terbuka ditarik dua ekor kuda besar. Di sebelah kanan duduk sais kereta, seorang lelaki, bertampang seram.

Wajahnya tertutup oleh kumis dan cambang bawuk lebat. Rambutnya yang gondrong di ikat menjulai ke belakang. Matanya yang sebelah kiri picak sedang telinganya sebelah kanan sumplung. Di lehernya yang mengenakan pakaian serba hitam ini melingkar sebuah kalung terbuat dari akar bahar. Pada kedua lengannya juga kelihatan melingkar dua gelang hitam dari akar bahar.

"Kenapa Datuk tidak membawa senjata?" bertanya sais kereta pada orang yang duduk di sampingnya.

Orang ini mengenakan pakaian bagus berwarna merah penuh dengan sulaman-sulaman benang emas.

Destarnya juga merah. Wajahnya klimis pucat dan agak cekung di bagian pipi. Dagunya nyaris berbentuk empat persegi sedang bibirnya tipis dan selalu terkancing rapat. Sekali lihat saja wajah orang yang dipanggil dengan sebutan Datuk ini membayangkan sifat angkuh dingin kalau tidak mau dikatakan kejam. Orang ini mempunyai kebiasaan aneh. Yaitu sebentar-sebentar menyentak-nyentakan lehernya ke kiri atau ke kanan seperti ayam tertelan karet.

"Mengapa kita tidak membawa senjata katamu, Daud?" orang berpakaian merah membuka mulutnya yang sejak tadi tertutup. Lalu terdengar dia mendengus. Menyusul kemudian suara tawanya bergelak.

Sais kereta sesaat jadi terdiam. Lalu dia ikut-ikutan tertawa.

"Setan! Kenapa kau tertawa?!" sang Datuk membentak.

Sais kereta bernama Daud itu cepat tutup mulutnya. "Maafkan saya Datuk," katanya. "Saya cuma ikut-ikutan saja. Bukankah Datuk sering berkata agar saya lebih banyak mengikuti sifat dan kebiasaan Datuk?"

"Aku tidak suka kau tertawa lebar-lebar di hadapanku! Mulutmu bau! Tahu?"

"Maafkan saya Datuk," kata Daud sekali lagi. Lalu dengan suara perlahan dia menyambung. "Saya masih ingin tahu mengapa Datuk tidak membawa senjata."

"Kau takut?"

"Tentu saja tidak Datuk," jawab Daud.

"Mulutmu berkata tidak tapi suaramu bergetar. Percuma kau dijuluki orang Daud si Hantu Mata Picak! Momok nomor satu di seluruh nagari!"

"Maafkan saya. Kalau begitu saya tidak akan bertanya lagi!" Lelaki bermuka angker yang mata kirinya buta picak itu mencambuk kuda-kuda penarik kereta keras-keras seolah melampiaskan rasa kesalnya pada kedua binatang itu. Dicambuk bertubi-tubi demikian rupa, kedua kuda berlari kencang seperti kesetanan.

"Bangsat kau Daud!" bentak lelaki bermuka cekung. Kalau bicara sang Datuk biasa memaki dan menyebut orang dengan kata-kata kasar seperti setan atau bangsat.

"Apa lagi salah saya Datuk?"

"Kau melarikan kereta seperti dikejar iblis! Kau hendak membuat aku celaka huh?!"

Daud menahan tali kekang dua ekor kuda.

Binatang-binatang itu mengangkat kepalanya ke atas dan serta merta memperlambat larinya.

"Nah sekencang begini saja sudah cukup. Kenapa harus terburu-buru....?"

"Bukankah kita hendak menemui...."

Sang Datuk cepat memotong kata-kata Daud. "Kita tidak menemui siapapun. Tapi justru dia yang mendatangi kita untuk mengantar nyawa anjingnya!" Untuk pertama kalinya orang ini berpaling pada sais kereta. "Aku melihat bayangan rasa takut di wajahmu yang buruk. Kalau betul begitu hentikan kereta. Biar aku melanjutkan perjalanan seorang diri. Dan kau boleh kembali ke Silungkang! Jalan kaki!"

"Saya bersumpah saya tidak takut Datuk. Tapi apa yang hendak kita lakukan ini bukan pekerjaan main-main. Datuk Bandaro Sati sudah dikenal di tujuh penjuru angin nagari sebagai Pandekar kelas wahid!"

"Dia boleh punya nama besar. Tapi usianya pendek. Lagi pula ilmu kepandaian apa yang dimilikinya?

Apa setinggi gunung Merapi sedalam danau Maninjau? Kau khawatir aku akan kalah olehnya? Kalau seandainya aku terdesak, lalu apakah kau akan berpangku tangan saja? Duduk di atas kereta sambil mencungkil hidungmu?!"

"Tentu saja saya tidak akan tinggal diam Datuk. Saya pasti akan membantu Datuk. Kalau tidak apa perlunya kita pergi bersama-sama," jawab Daud si Hantu Mata Picak. "Cuma saya ada sedikit rasa waswas Datuk. Bukankah Datuk Bandaro Sati memiliki Tuanku Ameh Nan Sabatang,... ?"

Orang di sebelah Daud si Hantu Mata Picak menyeringai. Setelah mengusap dagunya yang licin dan menyentakkan lehernya dua kali ke kiri dia berkata.

Pagelaran Terakhir

By seo blade | At 09:36 | Label : | 0 Comments
Pagelaran Terakhir Cerita Motivasi dan Inspirasi
Pagelaran Terakhir


SEO BLADE® - Adzan Isyak baru selesai berkumandang dari mikrophone tua masjid seberang jalan, sebentar lagi kewajiban akan tertunaikan oleh segelintir umat yang taat. Malam ini rombongan Kethoprak kami mendapatkan kesempatan menghibur penonton di halaman Balai desa seperti tahun-tahun kemarin. Tapi pagelaran tahun ini ada sesuatu yang mengganjal di hati kami, mulai dari banyaknya protes yang tidak setuju jika acara malam puncak seni di desa kami di isi dengan pagelaran kethoprak sampai kondisi kesehatan dari salah satu pemain andalan kami yang kian memburuk.


Bau asap rok*k murahan hasil sumbangan dari warga kami yang kasihan, bercampur dengan aroma bedak hasil patungan kami, mengiringi alunan suara gamelan yang di tabuh para niyogo kami membabar gendhing srepeg mataram terasa mendayu seperti menggambarkan suasana hati kami yang resah.

“Aku kira kamu benar-benar tidak jadi datang” sambutku membuka percakapan.
“Tenang kawan suara gamelan ini yang memaksaku datang lagipula di pagelaran terakhir ini aku tidak ingin mengecewakan penggemarku…” katanya sambil menghisap rok*k dalam-dalam.
“Uhuk… uhuk…!” batuknya memaksa untuk tidak melanjutkan kata-kata yang belum selesai.
“Kamu benar tidak apa-apa?” tanyaku sedikit khawatir, karena pesan singkat dari istrinya yang masuk ke telephon genggamku belum ku hapus “Mas, mohon maaf kondisi mas Didik kurang sehat mas cari penggantinya saja ya” begitu bunyi pesan singkat dari istrinya.
“Nggak apa-apa aku sudah minum obat…” katanya berusaha menyembunyikan sakit.
“Aku jadi apa malam ini…?” tanya nya.
“Biasalah… jadi musuhku… hahahahaha…” kataku sambil menepuk pundaknya.
“Dari dulu kita musuhan terus ya…?” tanyanya sambil tersenyum.
“Nggak apa-apa di panggung kita selalu jadi musuh tapi di belakang panggung kau adalah sahabat terbaiku…” balasku.
“Aku rias dulu… masalahnya aku keluar adegan pertama” katanya sambil ngeloyor ke sudut ruang ganti.
“Ya… kostummu sudah disiapkan sama teman-teman” jawabku.

Tari gambyong pari anom baru saja selesai di suguhkan sebagai tarian wajib untuk sebuah pagelaran kethoprak karena merupakan tarian pembuka yang berfungsi sebagai ucapan selamat datang untuk para penonton.Adegan per adegan kami lakonkan dengan sepenuh hati, saatnya tiba adegan dimana aku dan dia beradu akting aku memerankan tokoh Ranggalawe dan dia memerankan tokoh Nambi, penonton ikut tegang ketika Ranggalawe tidak setuju dengan keputusan Raden Wijaya yang mengangkat Nambi sebagai Mahapatih Mangku Bumi di Majapahit, mereka seakan ikut hanyut terbawa alur cerita dan seakan kembali ke masa ratusan tahun silam.

Penonton yang tadi sore berjubel memenuhi halaman balai desa kini tinggal separuhnya, mungkin hanya tinggal penonton yang benar-benar pecinta kethoprak, hingga mereka penasaran untuk mengikuti sampai akhir cerita pertunjukan kami, atau bisa jadi mereka adalah orang-orang penderita insomnia, atau mungkin mereka masih menunggu anak-anak mereka yang belum mau diajak pulang.

Sepertiga malam telah berlalu…
Pertunjukan kami akhirnya selesai, suara gending ayak-ayak pamungkas karya Ki Narto Sabdo mengalun malas, semalas pesinden dan para niyogo yang mulai diserang rasa kantuk, juga membayangkan upah mereka yang tidak sesuai untuk harga menahan tidak tidur semalaman.

Penonton sudah sepi, kini tinggal para pedagang kaki lima yang sibuk mengemasi daganganya, wajah mereka sedikit berbinar membayangkan rupiah hasil untung dagangnya, aku ikut tersenyum ada perasaan bangga menyeruak dalam dada, “Ternyata pementasan ini membawa berkah tersendiri buat mereka” gumanku dalam hati.
“Baju merah kumpulkan sama merah, baju hitam kumpulkan sama hitam, kain batik di lipat yang rapi…” instruksiku kepada teman-teman, karena aku tidak mau harus mengganti rugi kepada pemilik baju-baju sewaan ini, pengalaman tahun kemarin tidak ingin kami ulang kembali, dimana kami harus patungan untuk mengganti kain batik yang hilang.
“Ini baju siapa…?!!” tanyaku dengan nada tinggi bercampur jengkel, karena di sudut ruang ganti ada tas plastik berisi baju satu set tergeletak tanpa ada identitasnya, peraturan yang kami sepakati bersama sesudah selesai pertunjukan baju yang sudah di pakai harus di lipat, dimasukan tas pastik, di beri identitas pemakainya.
“Nggak tau mas…” jawab Istiono pemeran Lembu Sora.
“Besok kalau ada yang hilang aku tidak mau ikut patungan” ancam Effendi pemeran Raden Wijaya, memang teman kami yang satu ini sedikit tempramental tapi pada dasarnya baik.
“Kayaknya itu kostumnya didik” sahut Rustam pemeran kebo Anabrang, mencoba mendinginkan suasana.
“Orangnya mana?!!! Wah gak tanggung jawab!!!” teriaku karena rasa jengkel yang sudah memuncak.
“Sabar yah… ayah jangan marah-marah…” istriku mencoba meredakan kemmarahan ku.
Kulirik istriku, kulihat dia menggendong anak kami yang sudah tertidur pulas, memang setelah ku lihat nyenyaknya tidur anak kami, rasa amarah kian mereda atau mungkin aku tidak tega membangunkan tidur anaku dengan teriakan ku.
“Ya sudah tolong di rapikan dan di data jangan sampai ada yang hilang seperti tahun depan” instruksiku.

“Siap komandan!!!” jawab Supat dan Peno serempak sambil menghormat kepadaku layaknya seorang tentara, duo pemeran dagelan kami ini memang dia paling bisa mencairkan suasana, tidak sia-sia mereka selalu jadi ujung tombak kami untuk mengocok perut penonton.
“Tam… tolong beritahu Didik besok tak tunggu di rumah…” kata ku.
“ya…” jawab Rustam pendek, rupanya pengaruh alkohol dari minuman khas daerah kami mulai bekerja, mungkin kepalanya sudah terasa pusing sehingga ingin cepat-cepat tidur.

Malam beranjak pagi, kurebahkan tubuhku di sela-sela teman-teman yang sudah mendahului ku menggapai alam mimpi.
Matahari mulai meninggi memaksa mata ku untuk tidak terpejam lagi, ku hapus mimpi dalam tidur yang tidak lebih 3 jam tadi. Semalam aku jadi seorang adipati tuban, sekarang… kembali ke kehidupan nyata yang penuh realita, demikian juga teman-teman yang lain mereka tinggalkan semua peran mereka tadi malam.
Tergopoh-gopoh Rustam menemuiku, “Lok… ada kabar buruk” katanya, memang aku sering di panggil Mbolok oleh teman-teman entah apa artinya aku sendiri tidak tahu, dan aku juga lebih nyaman di panggil seperti itu.
“Kabar buruk apa…?” kataku.
“Didik masuk rumah sakit” katanya.
“Masya Alloh… rumah sakit mana…?” tanyaku. Hilang sudah rasa jengkel, sekarang hatiku di penuhi dengan kekhawatiran.
“Bangilan…” jawabnya pendek.
“Tunggu apa lagi ayo kita ke sana…” kataku.
“Ayo…” katanya.

Motor Karisma butut ku menderu-deru, kupacu hingga kecepatan maksimal yang tidak pernah sampai 60 km/jam. Akhirnya kami sampai juga di Rumah Sakit.
Tidak sulit untuk menemukan ruang istirahat pasien di rumah sakit di kota kecil ini, Aku langsung masuk menemui nya.
“Aku menunggu di luar saja aku tidak tega melihat orang sakit” kata Rustam memang temanku yang satu ini walau berbadan kekar tapi berhati lembut dan paling tidak bisa menahan air mata ketika melihat penderitaan orang lain.
Di atas tempat tidur ber sprei putih, kulihat dia tergeletak lemas, tatapan matanya kosong, kedua tangan dan kedua lobang hidung nya terpasang selang yang aku tidak tahu apa fungsinya. Di samping kakinya yang kelihatan kurus duduk bersimpuh istrinya sambil memijit-mijit, mata istrinya sembab menandakan dia belum berhenti menangis dari tadi malam.
“Habis pulang pentas semalam, mas Didik langsung begini mas…” kata istrinya. Ada sedikit penekanan suara di kata “pentas semalam”, sepertinya dia ingin meminta pertanggungjawaban ku.
Kudekati dia, kuraba keningnya dingin… benar benar dingin… kucoba rapal do’a sebisa ku mulai dari do’a bahasa arab yang dulu diajarkan guru ngaji ku sampai do’a bahasa jawa kuno yang aku peroleh dari dukun di kampung sebelah, semua kurapalkan, aku berharap mudah-mudahan ada salah satu do’aku yang manjur.
“Dik… apa yang kamu rasakan…?” tanyaku. Dia menatap ke arah ku sambil tersenyum.
“Ronggolawe sing teko iki” (“Ranggalawe yang datang ini…”) jawabnya balik bertanya.
“Iya” jawabku.
“Nambi wis ora kuat…” (“Nambi sudah tidak kuat”) katanya.
“Sudah Dik… main kethoprak nya nanti saja kalau kamu sudah sembuh…” kataku.
“Tidak bisa… setiap tarikan nafasku, setiap detak jantungku, suasana panggung selalu ada dalam benaku, ragaku boleh mati, jasadku boleh termakan cacing tanah, tapi semua itu tidak akan bisa melunturkan kecintaanku pada kethoprak Lok…” katanya, aku diam belum sempat aku bicara dia meneruskan kata-katanya.
“Lanjutkan perjuangan kita Lok… masih banyak impian-impian kita tentang kethoprak yang belum tercapai, dulu kita merintis dari nol… kita main dengan iringan kaset tape yang kita edit, kita main dengan kostum alakadarnya, kita main tanpa geber, kita memimpikan bisa main dengan iringan gamelan asli, kita main dengan kostum kethoprak sebenarnya, kita main dengan panggung kethoprak sebenarnya, kita juga bermimpi ada donatur yang mengabadikan pementasan kita dengan syuting video, kita bermimpi kethoprak ini ada yang nanggap, kini semua sudah menjadi kenyataan, kamu tinggal melanjutkan Lok… ibarat jalan sudah kita babat tinggal melewati saja… Kita punya impian agar bisa tampil di layar televisi, kita akan geser sinetron-sinetron tidak mendidik itu, kita jadikan Kethoprak sebagai penyambung lidah rakyat, kita jadikan kethoprak sebagai corong syiar agama, kita jadikan kethoprak sebagai benteng masuknya kebudayaan barat yang tidak sesuai dengan norma-norma ketimuran… Lok… aku mau nembang…” katanya lirih.
“Ya nembang lah mungkin bisa sedikit mengurangi rasa sakitmu… kan suaramu lebih merdu dari suaraku…” sahutku.
Sayup-sayup terdengar syair tembang pamit ciptaan almarhum Gesang.
“Lilanono pamit muleh…”
Hening… sunyi… kutunggu lanjutan syair berikutnya, tapi tiada terdengar… malah jeritan histeris istrinya sebagai lanjutan syair tembang yang belum selesai di bawakanya. Kulihat Rustam menangis di balik jendela, sebelum sadar apa yang terjadi, tiba-tiba duniaku gelap… gelap dan tanpa terasa aku menangis.
Selamat jalan sobat…

Cerpen ini saya dedikasikan untuk seorang sahabat, seniman sejati, saudara kami, Didik Sugiarto Almarhum, semoga kau tenang di sana, walau ragamu kini tidak bersama kami, tapi semangatmu dan kecintaanmu terhadap kethoprak akan selalu jadi inspirasi buat kami, sobat… kami kehilanganmu…

Mbolok sitompul si pena tajam.



13 June 2016

Menjadi Lebih Tanpa Berlebihan (Local Wisdom 5)

By seo blade | At 17:26 | Label : | 0 Comments
Menjadi Lebih Tanpa Berlebihan (Local Wisdom 5)


Oleh: Agung Praptapa

SEO BLADE® - Bangga menjadi orang yang hebat? Bangga menjadi orang besar? Bangga menjadi orang yang berguna dan memiliki banyak kelebihan? Tentu saja iya! Anda harus berbangga! Hidup hanya sekali. Jangan disia-siakan. Jadilah orang yang hebat, besar, dan berguna. Berbanggalah kalau Anda sudah besar, hebat, dan berguna, karena ini anugrah, yang harus disyukuri. Namun kita harus berhati-hati karena kebanggaan yang salah penerapan dan porsinya justru akan berakibat sebaliknya. Dapat menjadi bumerang. Kita bisa hancur apabila kelebihan-kelebihan yang kita miliki tidak dimanage dengan benar. Untuk itulah maka diperlukan suatu “sistem kontrol diri”, untuk menghindarkan terjadinya serangan balik atas kelebihan yang kita punya. Yang kita harapkan adalah semua kelebihan kita akan beranak pinak, sehingga kita semakin besar, semakin besar lagi, dan terus menjadi lebih besar tanpa harus meletus. Bagaimana caranya?


Caranya adalah dengan membuat sistem kontrol diri agar kelebihan-kelebihan kita bisa terus berkembang tanpa harus meletus dan hancur lebur . Sistem kontrol diri ini telah diformulasikan oleh para leluhur melalui nasihat bijak agar kita tidak adigang, adigung, danadiguna. Seseorang dikatakan adigang apabila ia terlampau membanggakan ‘kehebatannya’, termasuk didalamnya kesaktian dan prestasinya. Seseorang dikatakan adigung apabila ia terlampau membanggakan ‘kebasaran dan pangkatnya’.Sedangkan adiguna adalah keadaan di mana seseorang terlampau membanggakan ‘kepandaian dan kelebihannya’.

Kijang, Gajah, dan Ular Raja keraton Suryakarta, Kanjeng Susuhunan Pakubuwana IV, di sekitar tahun 1700an mengabadikan formula kontrol diri agar tidak adigang, adigung, dan adiguna melalui tembang (nyanyian klasik jawa) yang dirangkum dalam kumpulan syair yang disebut “Serat Wulangreh”. Dalam salah satu syairnya digambarkan bahwa orang yang adigang adalah seperti kijang, yang memiliki kemampuan lari yang kencang. Orang yang adigung digambarkan seperti gajah, yang besar dan kuat. Sedangkan orang yang adiguna digambarkan seperti ular, yang mengandalkan gigitannya yang berbisa.

Dikisahkan bahwa kijang, gajah, dan ular mati bersama walaupun mereka mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh binatang lain. Mereka mati bersama untuk menggambarkan bahwa seberapa hebatnya kita, selalu ada batasnya. Kijang bisa lari kencang tetapi bukan berarti tidak bisa lapar dan tidak bisa masuk lobang perangkap. Gajah memang kuat tetapi bukan berarti tidak bisa sakit dan mati. Ular bisa memangsa binatang lain yang lebih besar namun bukan berarti ular juga tidak bisa dimakan oleh mahluk lain. Jadi dalam kehidupan ini tidak ada yang paling hebat dalam segala-galanya. Ada kelebihan, ada pula kekurangan. Sayangnya, tidak semua orang mau dengan bijak memahami hal ini. Dalam dunia kerja tidak sedikit orang yang justru mengumbar adigang, adigung, dan adiguna.

Aplikasi di Dunia Kerja Di dunia kerja orang dituntut untuk profesional dan memiliki kelebihan yang dapat diandalkan untuk membesarkan dirinya sekaligus membesarkan organisasi dimana mereka bekerja. Kalau mau dilihat dengan hati yang jernih, sebenarnya semua orang memiliki kelebihan masing-masing. Hanya saja kepercayaan diri untuk mengekspresikan kelebihan tersebut tidaklah sama. Itulah yang membedakan antara orang yang “diakui” dan orang yang “tidak diakui”. Hal ini pulalah yang kemudian menjadikan ada orang yang berada dalam kelompok “orang hebat” dan ada pula yang berada dalam kelompok “orang yang biasa saja”. Mengapa semua orang yang sebenarnnya memiliki kelebihan sendiri-sendiri yang unik itu tidak seluruhnya menjadi orang hebat? Jawabnya adalah karena orang me-manage kelebihan yang dimiliknya dengan cara yang tidak sama. Tidak semua orang me-manage kelebihan yang dimilikinya dengan benar.

Me-manage kelebihan yang kita miliki bukanlah hal yang mudah. Untuk itulah mari kita coba menemukan cara yang tepat agar kita dapat me-manage kelebihan yang kita miliki agar bisa berkembang dan menciptakan kelebihan berikutnya (sustainable).

Yang pertama-tama harus kita lakukan adalah kita harus mengeset (setting) pikiran kita bahwa setiap orang memiliki kelebihan. Kemudian kita coba temukan kelebihan kita tanpa harus gentar dengan kelebihan orang lain. Ini pekerjaan yang mengasyikkan dan memerlukan keberanian untuk mengatakan bahwa “inilah kelebihan saya”. Belum ketemu juga? Coba lagi cari dengan pikiran yang lebih jernih. Jangan ijinkan pikiran negatif merasuki kita, jangan ijinkan pikiran jelek masuk. Berbaik-sangkalah pada orang lain dan pada diri sendiri. Terus lakukan sampai kita mampu mengatakan “inilalah kelebihan kita”. Tidak perlu kelebihan seperti orang-orang super tingkat dunia. Mampu bersabar adalah kelebihan. Mampu menahan lapar juga kelebihan.

Setelah kita dapatkan kelebihan kita, kita tanam kelebihan-kelebihan tersebut didalam pemikiran dan keyakinan kita. Sirami dia, rawatlah dia, sampai dia tumbuh dan berkembang menjadi kelebihan yang kuat. Disinilah keahlian kita untuk bersyukur sangat diperlukan. Semakin bersyukur kita dengan kelebihan yang kita miliki, akan memupuk kelebihan tersebut untuk terus mengakar pada diri kita dan tumbuh berkembang. Kita disini bisa berbangga, dan kebanggaan yang proporsional akan memperkokoh kelebihan yang kita miliki.

Namun, pada tahap inilah orang banyak yang tergelincir. Sadar memiliki kelebihan kemudian mereka mulai sesumbar. Memang sesumbar terkadang bisa meningkatkan secara instan kepercayaan diri (confident), namun kalau tidak terkontrol hal tersebut akan menuju ke kepercayaan diri yang berlebihan (over confident). Pada saat over confident ini, sistem kontrol diri seseorang sudah mulai kacau. Orang sudah tidak lagi memiliki ukuran yang akurat. Yang terjadi disini orang akan “merasa” lebih hebat, bukan “benar-benar” lebih hebat.

Untuk itulah maka tiga kata “adigang, adigung, adiguna” digagas untuk menjadi sistem pengereman (break system) agar orang tidak lepas kendali. Kalau kita hebat dan berprestasi, syukurilah, tidak perlu sesumbar. Jangan adigang. Kalau kita besar, berpangkat, berkuasa, juga tidak perlu sesumbar. Syukurilah. Tidak perlu adigung. Dan kalau kita pandai, juga syukurilah, berbagilah dengan tulus. Tidak perlu sesumbar, tidak perlu adiguna.

Mari bersyukur. Mari bekerja ihlas. Mari berkembang menjadi lebih hebat, lebih besar, dan lebih berguna tanpa harus adigang, adigung, adiguna. Kita bisa menjadi lebih tanpa harus berlebihan.

* Agung Praptapa, alumni writer schoolen dan trainer schoolen ini adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development. Alumni UNDIP, dan kemudian melanjutkan studi pascasarjana ke Amerika dan Australia, di University of Central Arkansas dan University of Wollongong. Mengikuti training dan mempresentasikan karyanya di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri termasuk di Ohio State University, Kent State University, Harvard University, dan University of London. Agung Praptapa juga seorang entrepreneur dan Direktur AP Consulting. Website: www.praptapa.com; Email: praptapa@yahoo.com.


Mengalami dan Memahami Kondisi Meditasi

By seo blade | At 17:22 | Label : | 0 Comments
Mengalami dan Memahami Kondisi Meditasi Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Mengalami dan Memahami Kondisi Meditasi


SEO BLADE® - Saya sering mendapat email dari rekan dan pembaca buku yang mengatakan bahwa mereka, setelah mendengar CD audio relaksasi, tidak bisa konsentrasi. Mereka menanyakan mengapa mereka sulit konsentrasi dan merasa kecewa karena tidak bisa merasakan dan mendapat manfaat meditasi. Saat saya menanyakan, “Sudah berapa lama anda berlatih diri?”, jawaban yang saya terima cukup menjelaskan kondisi mereka, “Saya sudah mencoba dua atau tiga kali, Pak.”

Benarkah demikian sulit bagi seseorang untuk melakukan meditasi? Mengapa ada yang mudah dan mengapa ada pula yang merasa sulit masuk ke kondisi meditatif yang dalam?
Pembaca, di artikel sebelumnya, Meditasi: Timur Bertemu Barat, saya telah menjelaskan tujuan meditasi ditinjau dari perspektif timur dan barat. Dalam artikel ini saya akan menjelaskan secara spesifik apa saja yang perlu diperhatikan, dilakukan, dan dialami saat melakukan meditasi.

Meditasi bertujuan untuk mengendalikan dan menguatkan pikiran. Pikiran sama seperti otot. Perlu latihan yang konsisten untuk bisa membuat pikiran menjadi kuat. Pikiran dilatih dengan cara difokuskan pada satu objek meditasi. Umumnya orang menggunakan napas sebagai objek
Pembaca, jika misalnya anda tidak pernah berlatih fitness atau body-building, dan tiba-tiba ingin menguatkan otot tubuh anda, apa yang akan anda lakukan? Apakah langsung berlatih ataukah anda akan mencari pelatih yang berpengalaman yang bisa membimbing anda dengan benar? Sudah tentu kita perlu dibimbing oleh seorang pelatih berpengalaman. Peran pelatih sangat penting agar kita tidak salah berlatih yang justru akan kontraproduktif . Dengan bimbingan yang benar kita dapat mencapai hasil yang maksimal dalam waktu yang singkat.

Pertanyaan selanjutnya, “Berapa ukuran atau berat beban yang anda gunakan sebagai beban awal latihan?” Apakah langsung beban yang berat ataukah anda menaikkan beban secara bertahap seiring dengan lama dan intensitas latihan anda? Apa yang akan terjadi bila anda “bernafsu” ingin membesarkan dan menguatkan otot-otot tubuh anda secepatnya dan langsung menggunakan beban yang berat (sekali)? Bagaimana hasilnya? Saya jamin, jika ini yang anda lakukan, maka tubuh anda akan cidera karena tidak kuat.

Pembaca, melatih otot tubuh membutuhkan waktu, cara, intensitas, dan konsistensi agar dicapai hasil yang maksimal. Tidak bisa dilakukan asal-asalan dan kita berharap bisa memiliki tubuh yang sehat, kuat, dan indah. Dalam hal ini yang perlu disadari dan diperhatikan adalah bahwa otot akan tumbuh, berkembang, dan menjadi kuat bila dilatih dengan cara yang benar dengan mengikuti proses alamiah pertumbuhan otot. Kita tidak bisa memaksa otot berkembang dengan kecepatan yang kita inginkan. Semua ada waktunya.

Sama seperti otot, pikiran juga perlu dilatih. Melatih pikiran sebaiknya juga dengan bimbingan seorang pelatih berpengalaman dan dengan takaran latihan yang sesuai. Meditasi adalah suatu skill yang perlu dilatih dan diasah setiap hari. Semakin sering kita berlatih maka semakin kuat “otot-otot” pikiran kita. Kuatnya “otot” pikiran tampak dalam bentuk pengendalian yang bisa kita lakukan pada pikiran. Saat pikiran diarahkan untuk konsentrasi dan memegang objek maka pikiran bisa memegang objek dengan kuat dan lama. Pikiran tidak lari ke mana-mana, liar tidak terkendali.

Untuk pemula, biasanya pikiran akan lari tak terkendali. Kita perlu menundukkan dan mengendalikannya. Ini yang dikenal dengan istilah “taming the monkey mind” atau menjinakkan pikiran yang liar seperti seekor monyet. Jangan salah baca ya, monkey mind bukan donkey mind.

Satu hal yang sering tidak dimengerti dan bahkan tidak diindahkan kebanyakan orang yaitu relaksasi pikiran atau meditasi membutuhkan tidak saja upaya, namun terlebih lagi adalah kepasrahan dan keikhlasan. Semakin kita bernafsu maka pasti semakin tidak bisa. Salah satu hukum pikiran berbunyi, “Bila berhubungan dengan pikiran bawah sadar dan fungsi-fungsinya, semakin besar upaya sadar yang dilakukan, semakin kecil respon pikiran bawah sadar.”

Relaksasi pikiran atau meditasi adalah proses yang didominasi pikiran bawah sadar dan nirsadar. Saat seseorang bermeditasi maka gelombang otak yang dominan adalah alpha, theta, dan atau tanpa delta. Kembali kepada kasus yang saya ceritakan di awal artikel. Pernyataan, “Saya sudah mencoba dua atau tiga kali, Pak”, dengan pemahaman dari apa yang telah saya sampaikan sejauh ini, perlu diubah menjadi, “Saya baru mencoba dua atau tiga kali, Pak”.

Banyak juga yang bertanya, “Pak, saya kok nggak merasa deep?” Biasanya saya akan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengecek kedalaman relaksasi yang ia capai. Ternyata banyak yang telah masuk sangat dalam, sangat rileks, baik secara fisik maupun pikiran, namun mereka tidak menyadari hal ini karena tidak punya acuan.

Nah pembaca, untuk membantu anda mengerti kedalaman relaksasi pikiran dan fisik saat meditasi, berikut adalah Subjective Landmark atau acuan yang disusun oleh guru saya, Anna Wise. Biasanya kami menggunakan Mind Mirror untuk melihat dan mengukur relaksasi pikiran dan ESR Meter untuk mengukur relaksasi fisik. Namun, bila tidak ada Mind Mirror dan ESR Meter, kami cukup menggunakan Subjective Landmark. Hasilnya sama valid.

Subjective Landmark ini hanya sebagai acuan namun bukan harga mati. Artinya, pengalaman subjektif setiap orang belum tentu sama. Namun secara umum, saat seseorang melakukan relaksasi pikiran atau meditasi, ia akan mengalami hal-hal yang disebutkan di Subjective Landmark.

Cara membaca Subjective Landmark adalah dengan melihat Level, Pengalaman/Sensasi Subjektif, ESR, dan EEG.

Penjelasannya sebagai berikut. Level menunjukkan kedalam relaksasi. Semakin besar angkanya berarti semakin dalam. Level dimulai dari angka 0 (nol) sampai 6 (enam).

Pengalaman/Sensasi Subjektif adalah apa yang kita alami atau rasakan baik di pikiran maupun di fisik. Gunakan pengalaman yang disebutkan di skala ini untuk mengetahui anda berada di level mana. ESR Meter adalah alat ukur yang mengukur relaksasi fisik dan menggunakan skala Lesh. Semakin kecil angka di ESR Meter berarti semakin rilek fisik kita. Dengan menggunaakn ESR Meter diketahui bahwa relaksasi fisik saat seseorang tidur berkisar antara 13 – 17. Sedangkan bila dengan meditasi bisa mencapai antara 0 – 5. Hal ini menjawab mengapa walaupun telah cukup tidur orang sering merasa lelah dan tidak segar saat bangun. Sebaliknya orang yang sering meditasi membutuhkan lebih sedikit tidur dan tubuhnya juga lebih sehat dan segar.

EEG adalah pengukuran dengan menggunakan Mind Mirror. Nah, karena anda tidak punya ESR dan EEG maka yang perlu diperhatikan adalah Pengalaman/Sensasi Subjektif.


Berikut adalah Subjective Landmark :

Level : 0 Pengalaman/Sensasi Subjektif: • Mungkin mengalami kesulitan untuk mendiamkan pikiran atau pikiran melompat ke sana ke mari tidak terkendali. • Perasaan gatal, tidak fokus, tidak perhatian. • Perasaan “Mengapa saya melakukan hal ini?”. • Mulai rileks. • Perasaan mulai “tenang”

ESR: 25 – 20 EEG: • Beta berkesinambungan, sering bersamaan dengan lonjakan gelombang-gelombang yang lain. • Kemungkinkan alfa muncul sesekali.

Level : 1 Pengalaman/Sensasi Subjektif: • Kondisi “kabur”. • Perasaan kurang nyaman. • Sensasi seperti orang yang dibius/dianestesi. • Kadang merasa pusing. • Pikiran dipenuhi dengan kegiatan sehari-hari – sebagai penghindaran terhadap keheningan dalam diri. • Perasaan akan energi yang tercerai-berai. • Sensasi hanyut menuju tidur atau tertarik keluar dari tidur.

ESR: 20 – 26 EEG: • Beta yang sudah agak berkurang, tetapi masih ada. • Alfa yang muncul sesekali tetapi lebih kuat.

Level : 2 Pengalaman/Sensasi Subjektif: • Energi yang tercerai berai mulai menyatu. • Mulai merasakan ketenangan dan rileksasi. • Gambar mental yang sangat jelas muncul secara tiba-tiba. • Kilas balik kenangan masa kecil. • Gambar dari masa lalu yang “lama” dan “baru”. • Perhatian tidak terlalu terpusat. • Perasaan berada di antara dua kondisi. • Kondisi transisi.

ESR: 16 – 14 EEG: • Beta berkurang • Alfa semakin kuat – bisa bersifat sinambung • Teta (frekwensi rendah) muncul sesekali

Level : 3 Pengalaman/Sensasi Subjektif: • Perasaan stabil yang lebih kuat. • Kondisi yang pasti. • Sensasi tubuh yang menyenangkan: merasa mengapung, ringan, bergerak, berguncang. • Gerakan ritmik yang muncul sesekali. • Gambar yang semakin banyak dan lebih jelas. • Meningkatnya kemampuan mengikuti imajinasi terbimbing.

ESR: 14 – 11 EEG: • Beta sangat berkurang. • Alfa sinambung • Kemungkinan teta yang lebih sinambung dengan peningkatan frekwensi dan/atau amplitudo

Level : 4 Pengalaman/Sensasi Subjektif: • Kesadaran yang sangat kuat terhadap pernapasan. • Kesadaran yang sangat kuat terhadap detak jantung, aliran darah, dan sensasi tubuh lainnya. • Perasaan kehilangan batas-batas tubuh (tidak lagi bisa merasakan keberadaan tubuh fisik). • Perasaan mati rasa di tungkai (lengan dan kaki) • Perasaan diri dipenuhi oleh udara. • Perasaan tubuh menjadi sangat besar atau sangat kecil. • Perasaan tubuh menjadi sangat berat atau sangat ringan. Kadang berpindah antara kesadaran internal dan eksternal.

ESR: 11 – 8 EEG: • Beta yang sangat berkurang • Alfa sinambung • Teta meningkat

Level : 5 Pengalaman/Sensasi Subjektif: • Kondisi kesadaran yang sangat tinggi. • Perasaan puas yang mendalam. • Sangat sadar/waspada, tenang, dan tidak melekat/terpisah dari keadaan sekeliling. • Perasaan “lepas” atau hilang dari lingkungan dan atau tubuh. • Bila menginginkan maka gambaran mental yang muncul adalah sangat-sangat jelas. • Perasaan kondisi kesadaran yang meningkat, yang tidak terdapat pada level sebelumnya, 0 – 4. • Perasaan pengalaman puncak, luar biasa, pengalaman “ah-ha”, pemahaman intuitif. • Kinerja tinggi

ESR: 8 – 5 EEG: • Penguasaan beta yang sangat baik – mulai dengan tidak adanya pikiran hingga pikiran-pikiran kreatif • Alfa sinambung • Teta sinambung

Level : 6 Pengalaman/Sensasi Subjektif: • Cara baru (berbeda) dalam merasakan sesuatu • Pemahaman intuitif terhadap masalah sebelumnya, seakan melihat dengan level kesadaran yang lebih tinggi. • Sensasi dikelilingi oleh cahaya. • Perasaan kesadaran spiritual yang lebih tinggi. • Sensasi semuanya tidaklah penting selain kondisi yang dialami saat itu. • Mengalami kebahagiaan yang luar biasa. • Mengalami ketenangan yang tak terlukiskan. • Perasaan akan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai alam semesta.

ESR: 5 – 0 EEG: Empat pola yang mungkin terjadi: 1. Pikiran yang terbangunkan (beta, alfa, teta, delta) 2. Meditasi optimal (alpha, teta, delta) 3. Sangat sedikit aktifitas listrik otak 4. Pikiran yang berkembang (pola The Awakened Mind, meliputi beta, alfa, teta, dan delta)

Pembaca, karena keterbatasan ruang dan waktu saya tidak bisa menjelaskan secara lebih detil setiap aspek dari Subjective Landmark. Sebagai informasi tambahan untuk anda, materi ini adalah bagian penting dari pelatihan The Awakened Mind.

*) Adi W. Gunawan adalah pakar mind technology yang telah menulis 14 buku best seller yang diterbitkan PT. Gramedia Pustaka Utama. Buku terakhirnya adalah Quantum Life Tranformation yang merupakan intisari dari pelatihan QLT workshop yang biasa ia bawakan. Adi dapat dihubungi melalui facebook, www.adiwgunawan, www.quantum-hypnosis.com, dan www.QLTI.COM. 



Posting Lama ►
 

Statistik Blog

Copyright © 2012-2017. SEO BLADE® - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by BLADE®